Perang Narasi Era Akal Imitasi

Perang Narasi Era Akal Imitasi

ILUSTRASI Perang Narasi Era Akal Imitasi.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

PERANG modern tidak lagi hanya berlangsung di udara, darat, dan laut. Ia juga berlangsung di layar ponsel yang sedang Anda pegang saat ini.

Bukti terbaru ada di perang yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran sekarang. Di Timur Tengah, rudal, drone, hingga jet saling diluncurkan. Namun, di saat yang sama, media sosial dipenuhi banjir gambar, video, dan klaim yang sulit diverifikasi. Sebagian di antaranya ternyata palsu.

Para analis menyebut situasi itu sebagai narrative war. Perang narasi.

Artinya, ada satu perubahan penting dalam konflik kontemporer. Dahulu propaganda disusun negara dan disebarkan melalui media resmi. Kini ”propaganda” itu diproduksi oleh siapa saja, dalam skala besar, dan dalam waktu sangat cepat. Teknologi akal imitasi (AI/artificial intelligence) mempercepat proses itu.

BACA JUGA:Pengamat: Perang AS–Israel vs Iran Masuk Tahap Perang Hibrida

BACA JUGA:5 UPDATE Perang Iran vs AS–Israel Hari ke-8, Kapal Diserang hingga WNI Hilang

Kantor berita Agence France-Presse sampai menurunkan tim pemeriksa fakta pekan lalu. Hasilnya, ada berjibun klaim menyesatkan di media sosial. Akun-akun pro-Iran, misalnya, membagikan video lama. 

Mereka menggambarkan kerusakan masif akibat serangan rudal Teheran. Memberikan ilusi kemenangan Iran. Video aslinya berasal dari rekaman lawas. Tapi, dikemas seolah-olah baru.

Ada juga klip yang ternyata diambil dari video game, tetapi dipromosikan sebagai rekaman serangan rudal Iran. Atau, gambar buatan AI yang memperlihatkan kapal perang Amerika Serikat (AS) tenggelam, termasuk kapal induk USS Abraham Lincoln. Dan, penontonnya, juga penyukanya, berjibun. Banyak banget.

Menurut lembaga pemantau disinformasi NewsGuard, bahkan ada gambar dan video palsu yang ditonton 21 juta kali di platform X saja.

BACA JUGA:Trump Wajibkan Iran Menyerah Tanpa Syarat untuk Akhiri Perang

BACA JUGA:Dampak Psikologis Paparan Berita Perang dan Cara Mengatasinya

Dalam ini, ada hal anyar yang bisa digarisbawahi. Yakni, dalam konflik modern, persepsi publik menjadi medan tempur yang sama pentingnya dengan medan perang fisik.

Dikutip AFP pada 4 Maret 2026, peneliti dari Institute for Strategic Dialogue, Moustafa Ayad, menggambarkan dinamika itu sebagai perang narasi yang bertujuan ”mengikis musuh.” Narasi yang diproduksi dapat dimaksudkan untuk menunjukkan kekuatan militer, membenarkan serangan, atau melemahkan legitimasi lawan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: