Perang Iran dan Kompleksitas Geopolitik di Timur Tengah
PENULIS seusai nyekar di makam Yasser Arafat di Ramallah, Palestina.-AI-
Saddam Hussein adalah presiden yang sangat anti-israel dan berani menantang amerika. Sikap keras kepala itu membuat George W. Bush geram dan dengan dalih Irak menyimpan senjata pemusnah masal (weapon of mass destruction), Saddam pun digulingkan.
Kelak terkuak, tuduhan amerika itu tak berdasar. Padahal, awal 1980-an, Irak adalah teman baik amerika. Dua presiden amerika kala itu, Jimmy Carter dan Ronald Reagen, mengandalkan Saddam Hussein untuk bisa menekan dan menetralkan pengaruh Iran hingga meletus perang Irak-Iran pada 1980–1988.
Sejak jatuhnya Saddam Hussein, Irak tidak lagi memiliki pengaruh dominan dalam geopolitik di Timur Tengah.
BACA JUGA:Tenang, Amerika Serikat Tak Selalu Menang Perang
BACA JUGA:Perang Iran vs Israel dan Instabilitas Pasar Komoditas Dunia
Nasib yang sama dialami Kolonel Muammar Gaddafi. Sejak meminpin Libya melalui kudeta tak berdarah pada 1969, Gaddafi menunjukkan sikap politik luar negeri yang tegas: menentang zionisme dan keras terhadap hegemoni amerika.
Bahkan, Libya bergabung dalam koalisi negara-negara Arab yang dipimpin Mesir dalam Perang Yom Kippur tahun 1973. Meski mampu menyejahterakan rakyat Libya dengan sistem republik sosialis, Gaddafi jatuh dan dihukum mati di jalanan oleh rakyatnya sendiri pada 2011.
Negara-negara Timur Tengah lainnya praktis tidak berdaya di depan amerika. Mesir, di zaman Gamal Abdul Nasser dan Anwar Sadat yang sangat keras melawan israel, kini di bawah kepemimpinan Jenderal Abdel Fattah Al Sisi cenderung bersikap netral menyikapi konflik Iran vs israel dan amerika.
Presiden Mesir Muhammad Mursi yang sangat keras menentang israel hanya menjabat dua tahun sebelum dikudeta Al Sisi yang merupakan orang kepercayaan Mursi sendiri.
Suriah, yang dalam sejarahnya selalu membersamai Mesir saat perang melawan israel, sekarang juga sudah berubah haluan. Di bawah Bashar Al Assad, Suriah sibuk dengan urusan politik dalam negeri.
Di bawah Presiden Ahmed Al Sharaa, Suriah tampaknya berkiblat ke Arab Saudi. Bisa ditebak, Suriah akan menjadi ”anak baik” baru amerika di Timur Tengah. Begitu pula Kerajaan Yordania, sebagai negara pemegang amanah penjaga Masjid Al Aqsa, bersikap sangat manis terhadap israel dan amerika.
Negara-negara lain di Timur Tengah seperti Arab Saudi, Bahrain, Kuwait, Uni Emirat Arab, Qatar, dan Oman juga menjadi kawan baik amerika.
Hanya Lebanon, khususnya sayap militer Hizbullah, yang konsisten membela Palestina dan terus memerangi israel. Namun, kapabilitas militer Hizbullah tidak cukup dan praktis mengandalkan dukungan dari Iran.
israel MERAJALELA, PALESTINA MENDERITA
Perubahan peta geopolitik Timur Tengah tersebut di atas yang membuat israel kian merajalela dan amerika terus menghegemoni Timur Tengah. Selain terkait minyak, berdirinya israel di tanah Palestina adalah akar utama konflik di Timur Tengah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: