Perang Iran dan Kompleksitas Geopolitik di Timur Tengah

Perang Iran dan Kompleksitas Geopolitik di Timur Tengah

PENULIS seusai nyekar di makam Yasser Arafat di Ramallah, Palestina.-AI-

Seandainya seluruh dunia bersepakat bahwa israel sah menjadi negara yang merdeka, yang menjadi pertanyaan adalah apakah israel akan tetap berdiri pada wilayah yang disepakati pada awal pendirian sesuai peta yang ditetapkan dalam UN Partition Plan tahun 1947? Faktanya, israel terus memperluas wilayah pendudukan di tanah Palestina. 

Sejarah mencatat, saat ini israel menguasai hampir 80 persen tanah yang sebelum 1948 adalah negara Palestina. Kota Al Quds (Yerusalem), tempat berdiri Masjid Al Aqsa, jatuh ke tangan israel pada 1967. 

Wilayah Tepi Barat praktis dalam kontrol dan kendali israel dan Jalur Gaza luluh lantak karena gempuran israel tahun lalu. 

Jutaan rakyat Palestina telah meninggalkan tanah mereka, menjadi pengungsi, dan mencari suaka politik di berbagai negara. Yang masih tinggal di Yerusalem, Tepi Barat, dan Jalur Gaza kian menderita karena israel tak pernah berhenti mempersekusi dan membunuh rakyat Palestina dengan dalih apa pun. 

Saat ini Palestina tidak layak disebut sebagai sebuah negara. Tidak memiliki angkatan perang, tidak punya sistem  pertahanan dan persenjataan, tidak ada bandara sipil maupun militer, serta warganya tidak memiliki akses berpergian ke mana saja tanpa melalui akses dan persetujuan dari tentara zionis israel. 

Bahkan, umat Islam Palestina kesulitan untuk melaksanakan ibadah haji dan umrah ke Tanah Suci Makkah. Bahkan, akses ke Masjid Al Aqsa pun dibatasi hanya untuk warga Palestina di Yerusalem dan harus melewati pemeriksaan tentara israel. Saat ini, menjelang akhir bulan Ramadan 1447 H, israel menutup total akses ke Masjid Al Aqsa.

Penderitaan warga Palestina tak hanya secara fisik, tetapi juga mental dan administrasi kependudukan. Warga Palestina, khususnya di Yerusalem dan Tepi Barat, seperti hidup di dalam ghetto (tembok pemisah), seperti warga Yahudi di zaman Nazi. Mereka stateless. Tidak diakui sebagai warga negara israel, tetapi juga bukan warga Palestina. 

Mereka hanya memiliki ID berbahasa Ibrani sebagai warga Yerusalem yang dikeluarkan kantor wali kota setempat. 

Tidak ada kata lain yang tepat untuk menggambarkan kehidupan rakyat Palestina kecuali mereka adalah rakyat yang dijajah negeri zionis israel. Perlawanan terhadap imperialisme israel itu juga makin lemah. 

Organisasi Pembebasan Rakyat Palestina (PLO) yang didirikan Yasser Arafat kini tinggal sejarah. Rakyat Palestina kini hanya bisa berharap dukungan nyata dari negara-negara Islam agar penjajahan israel segera dihentikan dan Palestina benar-benar menjadi negara merdeka. 

Sayangnya, merespons israel yang jelas-jelas menjajah Palestina, sikap negara-negara Islam terbelah. Padahal, ini bukan tentang apa pun kecuali tentang kemanusiaan dan penjajahan yang harus dihapuskan dari seluruh sudut dunia.

SEANDAINYA IRAN KALAH PERANG

Jika Iran kalah dalam perang melawan israel dan amerika saat ini, misalnya, dinasti Reza Pahlevi kembali berkuasa, habis sudah supremasi peradaban Islam. Timur Tengah secara ekonomi dan politik praktis dikuasai amerika dan cita-cita kelompok zionis untuk membangun israel raya makin menjadi nyata. 

Mungkin tak ada lagi perang besar di Timur Tengah, situasi geopolitik menjadi stabil, tetapi amerika dan israel kian merajalela dan mudah melakukan apa pun untuk mencapai tujuannya. 

Warga muslim hanya akan menjadi objek dan pasar, pun Islam kemudian hanya menjadi agama ritual, tetapi tidak lagi menjadi sebuah semangat spiritual untuk membangun sebuah peradaban. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: