Satu Menit sebelum Iran Berdarah

Satu Menit sebelum Iran Berdarah

ILUSTRASI Satu Menit sebelum Iran Berdarah.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

Lihat narasi yang ia bangun.

Pertama, ia mengancam akan mengebom.

Kedua, ia membatalkannya di menit akhir.

Ketiga, ia mengeklaim bahwa ancamannya itu sudah cukup untuk menyelamatkan nyawa orang.

Ia ingin mengambil kredit sebagai juru selamat. Ia ingin terlihat lunak, tapi tegas. Padahal, realitas di lapangan jauh berbeda. Di perairan Teluk, tiga gugus tempur kapal induk AS masih siaga penuh. USS Abraham Lincoln. USS Gerald Ford. USS George Washington. Tiga kota terapung itu mengepung Iran dengan moncong meriam yang masih berasap.

Pesan Trump jelas, ”saya tidak menembak hari ini. Tapi, pistol saya masih di pelipis kalian.”

MENUNGGU LEDAKAN

Januari 2026. Baru hitungan hari. Tapi, rasanya kita sudah melewati satu abad ketegangan.

Di Teheran, rakyat masih menjerit di balik tembok digital. Di langit, pesawat kargo Tiongkok terus memuntahkan senjata. Di kabel internet, virus dan uang kripto saling tikam tanpa suara.

Di Washington, seorang presiden tersenyum puas. Ia merasa baru saja membatalkan kiamat. Padahal, jarinya masih menari di atas tombol nuklir.

Sementara itu, Jakarta terlelap.

Ingat. Kita tidak boleh merasa terkapar lemas di zona nyaman.

Kita memandang peta dan merasa tenang. Jarak ribuan kilometer antara Jakarta dan Teheran kita anggap sebagai benteng pelindung. Kita pikir itu ”api tetangga”, bukan ”kebakaran rumah kita”.

Itu bahaya.

Dunia kini sempit. Saling terikat.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: