Antek Asing
ILUSTRASI Antek Asing.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
Nama George Soros tentu sangat empuk menjadi sasaran serangan. Sebab, ia pernah dituding sebagai dalang utama di balik krisis moneter Indonesia pada 1997-1998.
Soros dijuluki sebagai ”The Man Who Broke Bank of England” karena membuat bangkrut bank sentral Inggris itu dalam peristiwa Black Wednesday pada 1992. Ketika itu nilai tukar pounds anjlok dan Soros meraup keuntungan USD1 miliar berkat strategi investasinya yang jitu.
Soros menulis buku The Age of Fallibility yang kemudian diterbitkan edisi terjemahannya oleh majalah Tempo. Yakni, Zaman Kenisbian (2006). Soros mengungkap rahasia kecanggihannya dalam memprediksi pergerakan pasar saham dunia.
Soros mengungkap dasar filosofis Karl Popper mengenai falibilisme: pengetahuan bersifat nisbi. Dari dasar pemahaman filosofis itulah, Soros bisa memprediksi dengan tepat pergerakan mata uang dunia dan menangguk keuntungan besar darinya.
Dari penerbitan buku itu, Tempo melanjutkan kerja sama dengan Soros. Tempo dan MDIF memublikasikan kesepakatan investasi dalam pemberitaan dan rilis publik. Dana dari MDIF berbentuk surat utang yang dapat dikonversi (convertible performance debenture).
Mayoritas saham IMD dikuasai Tempo Inti Media.
MDIF juga mengumumkan bahwa investasi mereka kepada organisasi media tidak memengaruhi independensi organisasi itu.
Tempo mengatakan bahwa keterbukaan tersebut menunjukkan bahwa independensi ruang redaksi Tempo tak akan terpengaruh dengan investasi MDIF. Tempo memilih MDIF karena mereka berkomitmen untuk tidak mencampuri urusan independensi ruang redaksi.
Sebagai perusahaan terbuka, struktur kepemilikan saham Tempo dapat diakses publik.
Perseteruan Tempo dengan Prabowo sudah berlangsung lama. Prabowo seperti menyimpan dendam kepada Tempo.
Pernah pada suatu ketika Prabowo dan Tempo berdamai dan Tempo diberi kesempatan wawancara khusus dengan Prabowo. Namun, Prabowo kecewa karena Tempo tidak menampilkan lengkap dan utuh wawancara itu dan hanya mengutip sebagian.
Tempo sering menjadi target persekusi dan teror. Kanal siniar Bocor Alus sering dianggap terlalu kritis. Jurnalis Tempo pun diteror dengan kiriman kepala babi.
Hasan Nasbi, juru bicara pemerintah ketika itu, menanggapi supaya kepala babi tersebut dimasak saja. Hasan Nasbi dipecat setelah muncul gelombang protes yang meluas.
Tempo juga digugat Menteri Pertanian Amran Sulaiman untuk bayar ganti rugi Rp200 miliar karena laporan Tempo yang berjudul Poles-Poles Beras Busuk dianggap merugikan. Kalau gugatan tersebut menang, Tempo bisa bangkrut.
Prabowo tidak main-main dalam perang melawan antek asing. Ia memerintahkan Menko Bidang Hukum Yusril Ihza Mahendra untuk membuat undang-undang anti-disinformasi dan propaganda asing. Entah apa dan bagaimana bentuk dan maksud undang-undang itu. Yusril pun patuh menjadi Pak Turut.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: