Menyoal Klaim Indonesia Bangsa Paling Bahagia
ILUSTRASI Menyoal Klaim Indonesia Bangsa Paling Bahagia.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
Iwan terinspirasi oleh novel The Old Man and The Sea karya emas Ernest Hemingway. Novel itu memberikan gambaran ironi kehidupan: ketika nelayan-nelayan mencari ikan, kemudian dijual di restoran, dan orang-orang kaya menikmatinya dengan harga mahal sampai ratusan ribu, nelayan-nelayan itu tidak bisa makan.
Iwan terhunjam kata-kata ayahnya: ”Orang-orang itu (nelayan, orang kecil, dan lain-lain) kebahagiannya tinggi. Kalau mereka tidak makan sehari dua hari, itu sudah biasa. Yang menyakitkan hati mereka adalah jika mereka tahu bahwa kita yang berkecukupan ini melupakan mereka.”
Itulah yang terjadi. Bangsa Indonesia mempunyai ketahanan luar biasa atas berbagai penderitaan. Masyarakatnya telah lama mengalami situasi berat akibat kolonialisme panjang yang mengisap kekayaan bumi Nusantara.
Penderitaan itu secara nirsadar telah terwariskan dalam sikap hidup yang lebih banyak pasrah kepada keadaan. Dan, seakan normal. Salah satu contoh adalah ungkapan ”nerimo ing pandum” yang sangat lekat dengan masyarakat Jawa.
Harapan terjadinya revolusi seperti hampir musykil. Jika terjadi perubahan sosial politik, itu pun tidak bisa disebut sebagai benar-benar revolusi. Apa yang terjadi tahun 1945 adalah akumulasi panjang dari bangkitnya kesadaran sejak awal abad ke-20 –atau sejak periode pelik awal abad, pinjam bahasanya Pramoedya. Atau, bahkan sejak perlawanan terhadap kolonialisme beberapa abad sebelumnya.
Jadi, jika ditanya apakah bangsa Indonesia mempunyai tingkat kebahagiaan tinggi, jawabannya bukan soal tingkat kebahagiaan. Jawabannya ada pada kebiasaan menikmati sekecil apa pun yang diterima.
JANGAN SALAH BACA HASIL SURVEI
Oleh karena itu, jangan ada ”salah baca” dari hasil survei tersebut. Menurut BBC Indonesia, pernyataan presiden itu merujuk pada survei yang dilakukan Global Flourishing Study (GFS).
Perlu dipahami, metodologi survei GFS itu berbeda dari survei yang menggunakan ukuran konvensional. GFS lebih fokus pada ”flourishing” yang mencakup aspek nonmateri seperti tujuan hidup, hubungan sosial, karakter, dan kesehatan mental. Indonesia unggul di sana karena faktor budaya seperti solidaritas keluarga, religiusitas, dan rasa syukur yang kuat. Bukan karena kemakmuran ekonomi.
Dengan demikian, hasil survei tersebut jangan dianggap sebagai sebuah capaian. Apalagi, capaian pembangunan periode tertentu. Ia adalah hasil proses panjang perkembangan sosial budaya yang sublim, mengendap dalam kesadaran diri, menjadi mentalitas masyarakat. Mentalitas seperti itu bukan hasil proses satu, dua, atau lima, sepuluh, tahun, melainkan berabad-abad.
Dengan kata lain, siapa pun pemimpinnya, siapa pun presidennya, apakah Pakubuwono, Soekarno, atau Habibie, masyarakat Nusantara begitu itu karakternya.
Konteks tersebut perlu dipahami agar tidak terjadi overclaim atas angka-angka hasil survei –apalagi survei lembaga internasional. Sebab, kemungkinan itu ada. Bagaimanapun, situasi yang dihadapi rakyat Indonesia saat ini sedang diterpa sulit-sulitnya keadaan.
Adalah sangat kontras menyebut masyarakat bahagia di tengah situasi yang secara empiris serbasulit. Angka PHK masih tinggi, sedangkan lapangan pekerjana juga tidak mudah bagi sebagian besar pencari kerja. Ketimpangan ekonomi masih menganga lebar.
DEMI CITRA POSITIF?
Secara pribadi, di satu sisi saya khawatir –menghindari kata curiga– bahwa pernyataan presiden semata-mata dibuat demi menimbulkan citra positif pemerintahannya untuk menutupi keadaan sebenarnya yang berkebalikan. Di sisi lain, saya perlu menyampaikan apresiasi atas sikap rendah hatinya ketika mengakui bahwa itu terjadi meski keadaan rakyat yang belum sejahtera sesungguhnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: