Eksistensi Radio di Era Kini: Kami Bukanlah Media Semenjana
ILUSTRASI Kami Bukanlah Media Semenjana: Eksistensi Radio di Era Kini.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
PERKEMBANGAN teknologi komunikasi digital telah mengubah lanskap media secara signifikan. Media baru seperti media sosial, platform streaming, dan podcast menghadirkan bentuk komunikasi yang cepat, visual, dan interaktif.
Dalam konteks ini, radio kerap diposisikan sebagai media konvensional yang kehilangan relevansinya. Namun, pandangan tersebut cenderung teknologis-deterministik dan mengabaikan dimensi sosial-budaya media.
Dari perspektif sosioantropologis, radio tidak hanya dipahami sebagai perangkat teknologi, tetapi juga sebagai praktik sosial dan institusi budaya yang hidup dalam relasi sehari-hari masyarakat.
BACA JUGA:Mengembalikan Ketenangan di Tengah Tren Media 2026: Tanggapan untuk Surokim As.
BACA JUGA:Mendengarkan Tubuh di Tengah Media: Dari Alat, Kemungkinan, hingga Dunia Tanpa Kompetisi
Di Indonesia, radio masih memainkan peran penting, terutama dalam konteks lokal, komunitas, dan wilayah dengan keterbatasan akses digital.
Dalam sosiologi klasik, Emile Durkheim menekankan pentingnya institusi sosial dalam menjaga kohesi dan solidaritas masyarakat.
Media, termasuk radio, dapat dipahami sebagai institusi yang berkontribusi pada pembentukan kesadaran kolektif melalui penyebaran nilai, norma, dan simbol bersama.
Radio berfungsi sebagai medium yang mereproduksi keteraturan sosial sekaligus memperkuat rasa kebersamaan.
BACA JUGA:Cara Mengenali Video Deepfake dan Konten AI yang Viral di Media Sosial 2026
Pierre Bourdieu menawarkan konsep habitus dan arena (field) untuk memahami praktik media. Radio dapat diposisikan sebagai arena budaya tempat aktor-aktor sosial –penyiar, pendengar, pengiklan, dan komunitas –berinteraksi dan memproduksi makna.
Preferensi pendengar terhadap program radio tertentu mencerminkan habitus sosial yang dibentuk oleh kelas, pendidikan, dan latar budaya.
Sementara itu, Marshall McLuhan melalui gagasan ”the medium is the message” menekankan bahwa karakter medium memengaruhi cara manusia berinteraksi dan membentuk pengalaman sosial.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: