Dinkes Sidoarjo Ajak Warga Lebih Waspada DBD setelah Pasien Anak Meninggal Dunia

Dinkes Sidoarjo Ajak Warga Lebih Waspada DBD setelah Pasien Anak Meninggal Dunia

TIM EPIDEMIOLOGI Dinkes Sidoarjo mem-fogging sejumlah titik rawan DBD di Kecamatan Waru pada Sabtu, 31 Januari 2026.-Boy Slamet-Harian Disway

SIDOARJO, HARIAN DISWAY - Curah hujan yang masih tinggi dan genangan di beberapa titik Kabupaten Sidoarjo membuat kasus Demam Berdarah Dengue atau DBD bermunculan. Satu pasien anak meninggal dunia akibat virus yang dibawa nyamuk Aedes Aegypti betina tersebut.

Data Dinas Kesehatan (Dinkes) menyebutkan bahwa pasien DBD itu berasal dari Kecamatan Waru. Usianya masih belum 12 tahun. Pasien sempat menjalani perawatan intensif di fasilitas kesehatan (faskes) setempat, tapi nyawanya tak tertolong.

Kasus itu menjadi perhatian serius Pemkab Sidoarjo. Karena itulah, Dinkes segera menginstruksikan fogging di wilayah Kecamatan Waru pada Sabtu, 31 Januari 2026. Tim epidemiologi diterjunkan.

Fogging sekaligus menjadi pengingat bagi masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman kesehatan yang bisa berdampak fatal tersebut.

BACA JUGA: DBD Menjadi Momok di Musim Hujan 2026, Cek Gejala Awal yang Sering Terabaikan

BACA JUGA:Medical Health Talk RSPAL dr. Ramelan: Musim Hujan Rawan DBD, Pastikan Tubuh Terhidrasi


FOGGING di kawasan Waru, Sidoarjo, pada Sabtu, 31 Januari 2026, dipilih sebagai respons cepat atas kasus DBD yang menimbulkan korban jiwa.-Boy Slamet-Harian Disway

Sebelum fogging, tim epidemiologi Dinkes Sidoarjo sempat mengecek lingkungan sekitar tempat tinggal pasien yang meninggal dunia. Rupanya, ada tempat penampungan air bersih yang tidak terkelola dengan baik.

Tempat yang seperti itu menjadi kondisi ideal bagi nyamuk Aedes Aegypti untuk berkembang biak. 

"Kami perlu mengingatkan kembali pentingnya gerakan 3M Plus. Ini adalah fondasi utama pencegahan," kata Kepala Dinkes Sidoarjo dr. Lakhsmie Herawati Yuwantina kepada Harian Disway Minggu, 1 Februari 2026.

Dia menerangkan bahwa 3M Plus meliputi tiga langkah utama. Yakni, menguras tempat penampungan air minimal seminggu sekali, menutup rapat semua wadah yang berpotensi menampung air, serta memanfaatkan kembali barang bekas yang dapat menjadi sarang nyamuk.

BACA JUGA: Musim Hujan Rawan Penyakit DBD, Diare, hingga Ispa, Dinkes Surabaya Gencarkan Penyuluhan Lewat Medsos

BACA JUGA:Tren DBD di Jatim Meningkat, Eri Cahyadi Terbitkan SE Wali Kota Surabaya

Sedangkan, Plus yang dimaksud mencakup langkah tambahan seperti memasang kawat kasa di jendela, menggunakan kelambu saat tidur, mengoleskan lotion anti nyamuk, dan menerapkan pola hidup bersih sehat secara konsisten.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: