Pemerintah Nonaktifkan BPJS PBI, KPCDI: Keselamatan Pasien Lebih Utama daripada Administrasi

Pemerintah Nonaktifkan BPJS PBI, KPCDI: Keselamatan Pasien Lebih Utama daripada Administrasi

Pemerintah menonaktifkan BPJS secara tiba-tiba, pasien terpaksa beralih menjadi peserta BPJS Mandiri demi menunjang keberlangsungan hidupnya.--Instagram

HARIAN DISWAY - Ketua Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPCDI), Tony Richard Samosir, menyampaikan kritik terhadap kebijakan pemerintah yang menonaktifkan kepesertaan BPJS Kesehatan kategori Penerima Bantuan Iuran (PBI) secara mendadak pada awal tahun 2026 ini.

Tony menilai bahwa pemerintah lebih lebih mementingkan urusan administrasi dibandingkan dengan keselamatan nyawa para pasien.

Hingga kini, KPCDI mencatat ada sekitar 200 orang anggotanya telah melaporkan status kepesertaan yang tiba-tiba tidak aktif. Namun, jumlah total di lapangan diyakini jauh lebih besar.

Tony menegaskan bahwa pasien cuci darah seharusnya otomatis berhak mendapat bantuan karena kondisi ekonomi mereka pastinya terdampak oleh penyakit kronis tersebut.

BACA JUGA: Ratusan Pasien Gagal Ginjal Tak Bisa Cuci Darah akibat BPJS PBI Dinonaktifkan

BACA JUGA: BPJS PBI Dinonaktifkan, Nasib Pasien Gagal Ginjal hingga Terapi Anak Terancam

"Minimal ada notice selama 30 hari lah. Biar pasien itu bisa melakukan sanggahan dan menjelaskan mereka benar-benar tidak mampu" Kata Tony.

Ia juga menyoroti nasib para silent victim yang tidak memiliki akses informasi ataupun ponsel untuk mengecek status mereka dan hanya bisa pasrah saat layanan diputus. 

Pengakuan Pasien

Dampak kebijakan ini dirasakan langsung oleh sejumlah pasien di Jawa Timur yang mendapati status JKN Mobile mereka berubah menjadi tidak aktif secara tiba-tiba.

Salah satu pasien yang merasakan dampak dari kebijakan tersebut adalah Nizar Rifki Bawafi, berusia 30 yang berasal dari Genteng, Banyuwangi. 

BACA JUGA: BPJS PBI Dinonaktifkan, Warga Depok Sakit Asam Lambung Tak Bisa Dirawat di RS

BACA JUGA: BPJS Kesehatan PBI Dinonaktifkan, Warga Terpaksa Obati Anak Diare dengan Obat Warung

Pada hari Rabu, 28 Januari, Rifki gagal menjalani prosedur hemodialisis rutin dikarenakan status PBI-nya sudah tidak lagi aktif. Ia diminta membayar 1,2 juta jika ingin melanjutkan tindakan. 

Setelah sempat beberapa hari absen cuci darah, Rifki akhirnya terpaksa beralih menjadi peserta BPJS Mandiri demi menunjang keberlangsungan hidupnya melalui prosedur cuci darah rutin.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: