Anak Bunuh Sekeluarga Sendiri di Warakas, Jakut: Sulitnya Jadi Ortu

Anak Bunuh Sekeluarga Sendiri di Warakas, Jakut: Sulitnya Jadi Ortu

ILUSTRASI Anak Bunuh Sekeluarga Sendiri di Warakas, Jakut: Sulitnya Jadi Ortu.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

Kontan, asap putih memenuhi dapur. Rumah kecil itu jadi berkabut. Syauqi tidak tahan (meski bermasker dobel) ia keluar rumah, kemudian menutup pintu lagi. Asap di dalam rumah kian pekat. Tiga orang yang tidur awalnya terbatuk-batuk, kemudian diam sendiri.

Sejam kemudian (sudah dini hari, Jumat, 2 Januari 2026) Syauqi masuk rumah, mematikan kompor. Ia lalu memeriksa tiga keluarganya. Pingsan semua. Entah pingsan atau tidur. Namun, berdasarkan Syauqi yang tidak tahan di dalam rumah meski bermasker, sangat mungkin tiga korban pingsan.

Onkoseno: ”Kemudian, tersangka menuangkan rebusan air teh campur kapur barus tadi ke dalam mug. Lalu, dimasukkan pula racun tikus ke dalamnya. Diaduk.”

Dengan membawa mug dan sendok, Syauqi mendatangi kamar para korban. Ia lalu mencekoki para korban, satu per satu, dengan cairan itu. Caranya, mulut para korban dicangap (buka paksa) lalu dimasuki sendok isi racun.

Selanjutnya, Syauqi bikin sandiwara. Unik. Ia menyulut kembang api yang dibawanya dari tempat kerja. Saat disulut, diarahkan ke badannya sendiri. 

Kembang api meluncur menabrak badan Syauqi. Memantul. Meliuk-liuk di dalam rumah kemudian meledak. Badan Syauqi luka bakar. Terus, ia pilih tempat di kamar mandi untuk pingsan.

Apa motifnya?

Onkoseno: ”Menurut tersangka, ia merasa dianaktirikan. Ia mengaku sering dimarahi ibunya. Tapi, kami mendalami lagi motifnya.”

Merasa dianaktirikan dan sering dimarahi. Memang, empat-lima jam menjelang akhir hidup Siti, dia memarahi Syauqi. Itulah kenangan akhir. Apakah ibunda salah?

Dikutip dari BBC News, 11 Agustus 2023, berjudul The lifelong effects of ”the favourite child”, karya Debra Dennett, diungkapkan soal anak kesayangan (the favourite child) ortu. Juga, kebalikannya, anak yang kurang disayang ortu.

Menjadi ortu sesungguhnya sangat sulit. Kalau mau menjadi ortu ideal. Sempurna. Namun, banyak orang cuma ingin punya anak, tanpa paham konsekuensi kesulitannya. Setelah paham pun, banyak yang mengabaikan konsekuensi itu.

BBC mengulas, sebagian besar ortu tidak akan mengakui ada the favourite child. Jika para ortu ditanya, pasti menjawab, semua anak diperlakukan sama. Atau, mereka berusaha memperlakukan sama. 

Walaupun dalam hati, ada ortu yang mengagumi salah satu anak. Secara tak disadari. Ada pula yang memberikan perhatian lebih kepada anak sulung. Karena sejarah. Si sulung itulah yang membuat ortu, untuk kali pertama, dipanggil mama dan papa. Yang pertama pasti berkesan.

Ketidakadilan itu disebut parental differential treatment (PDT). Membeda-bedakan anak. Atau, pilih kasih. 

BBC menyebutkan, Prof Laurie Kramer, guru besar psikologi terapan di Northeastern University, AS, menyatakan, hal itu bersifat subjektif. Bergantung sudut pandang orang. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: