Anak Bunuh Sekeluarga Sendiri di Warakas, Jakut: Sulitnya Jadi Ortu

Anak Bunuh Sekeluarga Sendiri di Warakas, Jakut: Sulitnya Jadi Ortu

ILUSTRASI Anak Bunuh Sekeluarga Sendiri di Warakas, Jakut: Sulitnya Jadi Ortu.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

Kramer: ”Anak merasa kurang disayangi bersifat subjektif. Bisa jadi memang benar. Bisa pula ortunya tidak menyadari. Bisa, ada suatu peristiwa kecil di suatu waktu yang membuat salah satu anak berpikir ia kurang disayangi. Bisa juga ortu punya alasan rasional untuk memperlakukan salah satu anak.”

Dilanjut: ”Itu adalah pengalaman orang-orang, bahwa orang tua mereka dianggap lebih menyukai anak lain daripada mereka. Ini bisa dengan memberikan lebih banyak waktu, perhatian, pujian, atau kasih sayang. Mungkin juga dengan mengurangi kontrol sehingga mereka dapat menikmati lebih sedikit batasan, lebih sedikit disiplin, atau bahkan hukuman, dibandingkan anak lainnya.”

Menurut Kramer, kebanyakan ortu tidak sengaja lebih menyayangi, atau kurang menyayangi, salah satu anak. ”Perlakuan istimewa mungkin karena satu anak lebih mudah diasuh, ortu mungkin lebih dekat dengan anak itu, melihat kesamaan antara mereka dan anak tersebut,” katanyi.

Di keluarga Kramer tidak pernah membahas soal pilih kasih. ”Tetapi, setelah komentar asal-asalan saudara laki-laki saya tentang saya sebagai anak kesayangan, saya memutuskan untuk mencari tahu lebih lanjut,” katanyi.

Kramer bertanya kepada saudara laki-laki itu, mengapa ia berkomentar begitu. Saudara menjawab, dulu ayah mereka pernah memarahi si saudara karena menakut-nakuti Kramer dengan Mole dari serial TV Thunderbirds (semacam mesin bor raksasa) dan itu membuat Kramer menangis. 

Kramer: ”Saya tidak ingat momen itu. Mungkin karena saya bukan yang dimarahi saat itu.”

Kejadian tersebut oleh anak bisa disimpulkan si saudara, Kramer sebagai anak kesayangan. Jadi, bersifat subjektif.

Di kasus pembunuhan sekeluarga di Warakas, Syauqi merasa dianaktirikan. Ia menyimpulkan begitu. Minimal, ia dimarahi ibu karena sering pulang pagi.

Itu subjektif. Dari perspektif ibu, mungkin ibu menyayangi Syauqi. Agar jangan biasa pulang pagi, buruk buat kesehatan. Atau, ibu khawatir Syauqi melakukan hal negatif sehingga pulang pagi. Dari perspektif Syauqi, sebaliknya. Pasti, sulit menjadi ortu. (*)

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: