Washington Post, Media Legenda Amerika Serikat, yang Terguncang PHK Massal: CEO Mundur, Redaksi Tertekan
DEMO WARGA WASHINGTON yang menentang pemecatan jurnalis Washington Post, 5 Februari 2026.-Heather Diehl-Getty Images North America-
Washington Post kembali diguncang. Sabtu, 7 Februari 2025, manajemen surat kabar itu mengumumkan pengunduran diri CEO sekaligus penerbitnya, Will Lewis. Keputusan itu datang hanya beberapa hari setelah media legendaris milik Jeff Bezos itu melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran. PHK itu memantik kemarahan pembaca dan karyawan.
LEWIS, orang Inggris itu, memimpin Washington Post sejak dua tahun lalu. Ia digantikan oleh Jeff D’Onofrio, mantan CEO platform media sosial Tumblr. D’Onorio yang bergabung ke Post tahun lalu sebagai chief financial officer.
Lewis sempat mengirimkan e-mail kepada para staf. Surat internal. Tapi, isinya dibagikan ke media sosial oleh salah seorang reporter. ’’Ini adalah waktu yang tepat bagi saya untuk menyingkir,” tulisnya.
Rabu, 4 Februari 2026, gelombang PHK memang menyapu ratusan jurnalis Post. Manajemen tidak mengungkap angka pasti. Namun The New York Times, melaporkan sekitar 300 dari 800 jurnalis diberhentikan.
BACA JUGA:Pertemuan Denmark, Greenland, dan AS di Washington Buntu, Sepakat Bentuk Forum Tingkat Tinggi
BACA JUGA:Indroyono Soesilo Jadi Dubes RI untuk AS, Isi Kekosongan 2 Tahun di Washington D.C.
Dampaknya luas. Sebagian besar staf koresponden luar negeri, tim lokal, dan liputan olahraga dipecat. Seluruh tim liputan Timur Tengah dilepas. Begitu pula koresponden di Kyiv, Ukraina. Departemen olahraga, grafis, dan berita lokal dipangkas signifikan. Podcast harian Post Reports dihentikan.
Reaksi keras datang dari dalam dan luar redaksi. Ratusan orang berunjuk rasa di depan kantor pusat Post di pusat kota Washington pada Kamis. Kritik juga mengarah langsung ke kepemimpinan Lewis. Sebab, selama dua tahun terakhir, Lewis harus mengendalikan Post yang sedang mengalami kerugian finansial.
Keluhan datang dari pelanggan maupun karyawan. Mereka menilai arah manajemen tidak menjawab krisis industri sekaligus menggerus kapasitas jurnalistik.
Tekanan industri memang nyata. Pendapatan dan pelanggan media cetak di Amerika Serikat tergerus. Sebab, perhatian publik beralih ke media sosial. Pendapatan iklan di era digital juga tetap kalah jauh dibandingkan masa keemasan iklan cetak.

PELUKAN HANGAT warga Washington DC kepada para jurnalis Washinton Post yang sedang mengalami tekanan berat.-Heather Diehl-Getty Images North America-
Namun, ada fakta yang kontras dan mencolok: media nasional seperti The New York Times dan The Wall Street Journal disebut mampu bertahan dan lebih solid secara finansial. Washington Post—meski ditopang miliarder—belum berhasil meniru capaian itu.
Lewis sendiri mengakui kesulitannya. Ia menuliskannya lewat catatan yang dibagikannya kepada para staf. Catatan itu kemudian dibagikan oleh kepala Biro Gedung Putih Washington Post Matt Viser.
Lewis mengakui bahwa ia harus mengambil keputusan sulit saat menjabat. Demi memastikan masa depan Post. ’’Agar media ini bisa berlanjutan dan bertahun-tahun ke depan tetap dapat menerbitkan berita nonpartisan yang berkualitas,’’ tulis Lewis.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: