Elegi di Dahan Cengkih, Tulisan yang Tak Sempat Sampai

Elegi di Dahan Cengkih, Tulisan yang Tak Sempat Sampai

ILUSTRASI Elegi di Dahan Cengkih, Tulisan yang Tak Sempat Sampai.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

MENGEMBALIKAN JIWA PADA NEGARA

Kematian YBR adalah sebuah ”catatan pinggir” yang sangat pahit. Ia menuntut kita untuk berhenti sejenak dari kegilaan pembangunan fisik dan mulai menengok kedalaman jiwa bangsa. 

Sebuah bangsa yang besar tidak diukur dari seberapa banyak aspal yang digelar, seberapa banyak makanan dibagikan, melainkan dari seberapa aman seorang anak kecil bermimpi tanpa harus takut akan harga sebuah pena.

Surat dan gambar diri YBR yang menangis bukan sekadar ditujukan kepada ibunya, melainkan kepada kita semua. Ia adalah dokumen sejarah yang lebih jujur daripada laporan tahunan kementerian dan lembaga mana pun. 

Ia adalah cermin buram yang menunjukkan bahwa di jantung kekuasaan kita, ada lubang besar yang bernama pengabaian. Sudah saatnya pemerintah berhenti bersembunyi di balik retorika ekonomi dan mulai bekerja dengan hati yang bergetar oleh rasa bersalah. 

Sebab, jika satu nyawa anak bangsa hilang karena ketidakmampuan negara menyediakan selembar kertas, sebenarnya seluruh bangunan moral bangsa ini sedang runtuh. (*)

*) Jaleswari Pramodhawardani, kepala Laboratorium Indonesia 2045 (Lab45) dan deputi Bidang Politik Hukum Pertahanan Keamanan dan HAM-Kantor Staf Presiden (2016–2024).

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: