Anak Miskin Telantar dan Refleksi Hadirnya Ramadan

Anak Miskin Telantar dan Refleksi Hadirnya Ramadan

ILUSTRASI Anak Miskin Telantar dan Refleksi Hadirnya Ramadan .-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

K, balita di Surabaya yang berusia 4 tahun, harus menderita di tangan keluarga dekatnya. Tubuhnya lebam, kepalanya penuh luka, dan tidak diberi makan. Ia disiksa, ditinggal, dikunci dalam kos, ditelantarkan, dan tidak diberi makan. 

Di Kabupaten Ngada, NTT, ada peristiwa lebih tragis lagi. Seorang anak SD bernama YBS harus bunuh diri lantaran dipicu tekanan ekonomi orang tuanya karena tidak bisa membelikan buku seharga Rp10.000.

Tragedi di atas bukan sekadar kegagalan struktural pengelolaan negara, bukan juga sekadar kegagalan kultural warga, melainkan masalah di atas adalah masalah multidimensi yang terjadi di Indonesia. 

Menurut data terbaru BPS, angka kemiskinan di Indonesia adalah 23,85 juta jiwa atau sekitar 8,47 persen. Meskipun menurun dari September 2024 yang angkanya 8,57 persen, tidak berarti kerentanan kemiskinan hilang. Angka tersebut menunjukkan masih banyak warga yang hidup dalam keterbatasan layanan dasar. 

BACA JUGA:166 Sekolah Rakyat Diresmikan, Kepala Bakom RI: Negara Hadir untuk Anak-anak Miskin Ekstrim

Menurut laporan UNICEF, Bappenas, dan SMERU Research Institute, kemiskinan anak di Indonesia bukan sekadar angka pendapatan. 

Analisis multidimensi menunjukkan bahwa anak-anak menghadapi deprivasi dalam banyak aspek kehidupan mereka, seperti standar hidup, kesehatan, dan pendidikan, yang berdampak langsung pada pertumbuhan mereka.

Tragedi di atas perlu membuat kita refleksi diri. Terlebih, dua tragedi di atas hadir tepat ketika Ramadan 1447 H hadir di depan mata. Bulan yang banyak mengajarkan refleksi tentang mengingat, kehadiran, penyembahan, berbagi, menjadi dermawan, belajar menahan nafsu.

BUKAN TRAGEDI MUSIMAN

Viralnya dua kasus anak tersebut membuat pejabat dan masyarakat meningkatkan kepedulian. Mereka membantu, mengumpulkan donasi, memberikan pendampingan. Inisiatif tersebut baik dan perlu diapresiasi setinggi-tingginya. 

Namun, sering kali bantuan-bantuan di atas lebih banyak bersifat musiman. Hadir membantu, bantuan diberikan, berfoto bersama, foto diunggah di media. 

Semua itu baik dan perlu, tetapi berbagai penelitian menunjukkan bahwa bantuan sesaat itu tidak menyelesaikan untuk memutus rantai kemiskinan anak. 

Kemiskinan anak di Indonesia bersifat kompleks. Anak tidak sekadar miskin, tetapi mereka juga tidak memiliki akses ke pendidikan yang baik, perlindungan dari kekerasan, gizi yang baik, dan dukungan psikososial. 

Menurut Amartya Sen, kemiskinan adalah ketidakmampuan seseorang untuk menjalani hidup yang berharga. Kapasitas bagi anak berarti memiliki kesempatan untuk belajar tanpa malu, berkembang tanpa kekerasan, dan merasa aman dan dihargai. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: