Penembakan Sekolah dan Rumah di Kanada, Sembilan Orang Tewas: Batalkan Agenda Perdana Menteri
SUASANA SEKOLAH Tumbler Ridge Secondary School yang tenang ini terguncang penembakan massal, 10 Februari 2026.-Trent Ernst-AFP-
Darian Quist, salah seorang murid Tumbler Ridge Secondary School, sedang di kelas mekanik. Tiba-tiba, ada pengumuman bahwa sekolah harus lockdown
BACA JUGA:Indonesia-Kanada Sepakat ICA-CEPA, Target Ekspor Rp197 Triliun pada 2030
BACA JUGA:Kunjungan Prabowo ke Kanada Hasilkan ICA-CEPA dan MoU Pertahanan Strategis
Awalnya ia tidak mengira terjadi sesuatu yang serius. Namun situasi berubah ketika Quist mulai menerima foto-foto sadis tentang kekacauan di dalam sekolah. “Saat itu baru terasa apa yang sedang terjadi,” katanya kepada radio CBC.
Lockdown berlangsung lebih dari dua jam. Yang mengakhiri adalah momen ketika polisi masuk ke kelas-kelas. Aparat memerintahkan semua orang mengangkat tangan dan mengawal mereka keluar dari gedung sekolah.
Paras siswa sadar, itu bukan latihan. Tapi merupakan respons pada ancaman yang sedang berlangsung.
Shelley Quist, ibu Darian, masih mengingat momen pertemuan kembali dengan putranya setelah lokasi dinyatakan aman. “Ia tidak akan lepas dari penglihatan saya untuk sementara waktu,” ujarnya. Artinya, ada dampak psikologis dan traumatis pada keluarga korban dan penyintas.
Tentu, banyak orang ikut terguncang. Sebab, Tumbler Ridge digambarkan sebagai kota kecil dengan dinamika sosial yang khas. Trent Ernst, jurnalis lokal yang pernah menjadi guru pengganti di sekolah tersebut, menyebut bahwa salah satu anaknya baru saja lulus dari sekolah itu. Dan kata Ernst, Tumbler Ridge begitu kecil. Seolah-olah, setiap orang mengenal satu sama lain.

KAWASAN SEKOLAH Tumbler Ridge Secondary School, lokasi penembakan massal pada 10 Februari 2026.-Trent Ernst-AFP-
Pihak berwenang menegaskan bahwa penyelidikan masih berlangsung. Kata Komandan distrik utara kepolisian, Ken Floyd, kejadian itu dianggap sebagai sesuatu yang bisa berkembang cepat dan dinamis. Maka, aparat terus menggeledah rumah lain. Mencari bukti baru. Atau indikasi kejahatan itu berulang.
Pemerintah provinsi British Columbia turut menyampaikan respons resmi. Perdana Menteri provinsi David Eby, kejadian itu begitu jauh dari bayangannya. ’’Tidak ada kata-kata yang bisa menggambarkan betapa patahnya hati kami malam ini,’’ ucap Eby.
Kematian massal karena tindak kriminalitas di Kanada memang jarang. Tapi, tidak mustahil. Pada April 2025, misalnya. Ada insiden penabrakan pada sebuah festival budaya Filipina di Vancouver. Sebanyak 11 orang tewas.
Artinya, negara yang relatif ketat dalam pengendalian senjata api, masih ada titik rawan yang bisa jadi celah kejahatan besar… (*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: