Cahaya Lestari Surabaya (CLS): Konsisten di Jalur Basket, Eksis sampai Delapan Dasawarsa

Cahaya Lestari Surabaya (CLS): Konsisten di Jalur Basket, Eksis sampai Delapan Dasawarsa

TIM VETERAN Cahaya Lestari Surabaya (CLS) bermain bersama di GOR CLS Kertajaya pada Jumat, 13 Februari 2026.-Najwa Rana-Harian Disway

Surabaya tidak asing dengan basket. Ada banyak klub yang sampai sekarang masih jadi rujukan. Sebagian lainnya berfokus pada pembinaan atlet muda. 

BICARA basket di Surabaya tak bisa lepas dari Cahaya Lestari Surabaya (CLS). Lahir dari komunitas pelajar Tionghoa yang gemar bermain basket, lambat laun CLS tumbuh kian besar hingga menjadi yayasan seperti sekarang. 

Ketua Yayasan CLS, Ming Soedarmono, mengatakan bahwa kebersamaan masih terus menjadi fondasi sampai sekarang. Prinsip itu dipegang oleh yayasan CLS dan entitas pembinaan basket yang ada di bawahnya. 

“CLS itu dulu berdiri karena orang-orang suka basket. Yang punya uang urunan, yang nggak punya duit ya ikut latihan aja,” ujarnya kepada Harian Disway saat dikunjungi di GOR CLS Kertajaya pada Jumat, 13 Februari 2026. 

BACA JUGA:Perkumpulan Adi Husada & Yayasan Buddha Tzu Chi Surabaya: Siklus Kebaikan, yang Menanam Akan Memetik

BACA JUGA:Jelang Imlek, Dupa Jadi Buruan! Tradisi Sakral yang Tak Pernah Hilang


MING SOEDARMONO, ketua Yayasan Cahaya Lestari Surabaya, berpose dengan bola basket di GOR CLS Kertajaya pada Jumat, 13 Februari 2026.-Najwa Rana-Harian Disway

Ming lantas bercerita tentang lahirnya komunitas yang menjadi cikal bakal CLS. “Februari 1946,” ujarnya. Ia ingat betul, saat itu Surabaya masih dicengkeram rasa geram, amarah, dan gundah akibat clash 10 November 1945.

Di tengah kondisi itu, sekelompok pelajar Tionghoa nekat mendirikan Chun Lik She. Itu adalah perkumpulan remaja yang suka basket. 

Mereka menyewa lapangan di Simolawang dengan iuran Rp5 sen per latihan. Rutinitas itu bertahan sampai pada 1950, mereka membangun lapangan sendiri di Indrapura, di atas lahan PJKA. Saat itu, tarif sewanya Rp100 per tiga bulan.

CLS tumbuh sebagai komunitas eksklusif Tionghoa. Bendera merah dengan tiga lingkaran (buruh, pedagang, pelajar) dan tulisan aksara kuning menjadi panji-panji mereka. Kiblat mereka memang Tiongkok.

BACA JUGA:5 Kue yang Wajib Ada Saat Imlek dan Maknanya di Tahun Kuda Api

BACA JUGA:Cara Membuat Kue Ku (Ang Ku Kueh) Lembut dan Kenyal Untuk Sajian Imlek 2026

Pada 1951 silam, mereka bahkan menjamu tim basket nasional Tiongkok. Tujuannya, menjalin persaudaraan antaretnis Tionghoa dalam perantauan.

Namun, badai politik 1965 mengubah segalanya. Pasca peristiwa yang dikenal sebagai G30S, Orde Baru melarang organisasi berbau Tionghoa. CLS harus bertransformasi. Nama Mandarin Chun Lik She lalu di-Indonesiakan menjadi Cahaya Lestari Surabaya.

Singkatannya tetap sama, CLS. Lambang dengan aksara Tionghoa diganti tiga lingkaran merah-kuning-hijau tanpa tulisan. 

“Kami juga kemudian masuk Perbasi agar tidak dianggap perkumpulan yang eksklusif. Tapi, intinya tetap sama, yakni gotong royong. Pedagang yang mampu jadi pengurus, buruh dan pelajar jadi pemain,” imbuh Ming.


POTRET KENANGAN CLS saat meraih berbagai kejuaraan basket. -Najwa Rana-Harian Disway

BACA JUGA:Imlek 2026: Tradisi, Makna Angpao, hingga Harapan Tahun Baru

BACA JUGA:Perilaku Digital Warnai Imlek Zaman Now: Kirim Angpao Online, Checkout Bingkisan via Promo

Pada 1998, lapangan bersejarah di Indrapura yang menjadi kandang CLS sejak 1950, disertifikat BTPN. Meski CLS menang di PTUN dan berhak atas ganti rugi Rp2,1 miliar, lapangan tetap dibongkar paksa oleh Satpol PP pada April 1998. 

Alih-alih menyerah, CLS bangkit dengan strategi baru. Mereka menjalin kerja sama build operate transfer (BOT) dengan pemerintah untuk membangun GOR sendiri pada 1990-an. Jadi, pemerintah yang menyediakan lahan dan yayasan CLS yang mendirikan bangunannya.

“Dari sana kami masuk ke level profesional. Ada mes, ada lapangan permanen. Kami bisa kumpulkan bakat dari daerah, disekolahkan, lalu dibina jadi atlet,” beber Ming.

Kerja sama profesional dengan Kobatama/IBL sempat terjalin lewat manajemen CLS Knights. Namun, ketika aturan mewajibkan tim profesional berbentuk PT, bukan yayasan, CLS mundur dan berfokus ke akademi. 

BACA JUGA:7 Ide Hampers Imlek 2026 Tahun Kuda Api, Harga Mulai Rp100 Ribuan

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: