Imlek, Perkembangan Lintas Zaman dan Lintas Negara
AKSI LIONG kelompok Nacha Dharma Semarang dalam Festival Imlek di Kelenteng Sam Poo Kong Semarang pada Minggu, 15 Februari 2026.-Boy Slamet-Harian Disway
Pada masa Dinasti Ming dan Qing, tradisi membagikan angpao atau uang keberuntungan kepada anak-anak semakin populer.
Demikian pula dengan pemasangan dekorasi kaligrafi Tahun Baru. Juga pertunjukan barongsai serta tarian naga.

Perayaan Imlek di New Zealand. Cermin beragamnya interpretasi masyarakat dalam merayakan tradisi tahun baru tersebut.--chinadaily.com.cn
Rangkaian perayaan Imlek berlangsung lebih dari dua pekan. Persiapan biasanya dimulai jauh hari sebelumnya.
BACA JUGA:Hujan Ringan hingga Deras Selalu Warnai Imlek, Ini Penjelasan Ilmiahnya
BACA JUGA:Jelang Imlek, Dupa Jadi Buruan! Tradisi Sakral yang Tak Pernah Hilang
Yakni dengan tradisi membersihkan rumah atau “menyapu debu”. Sebagai simbol membersihkan kesialan. Rumah dihiasi lentera merah, kertas potong bermotif keberuntungan, dan dekorasi bernuansa merah.
Malam Tahun Baru menjadi puncak perayaan melalui jamuan makan malam. Menghadirkan seluruh keluarga besar.
Hidangan seperti ikan melambangkan kelimpahan. Sementara pangsit atau dumpling melambangkan rezeki.
Saat pergantian tahun, petasan dan kembang api dinyalakan. Dipercaya untuk mengusir roh jahat dan menyambut keberuntungan.
BACA JUGA:Bagikan Kabar Gembira Jelang Imlek, Lee Seung-gi Nantikan Anak Kedua
BACA JUGA:5 Kue yang Wajib Ada Saat Imlek dan Maknanya di Tahun Kuda Api
Hari pertama Tahun Baru diisi dengan kunjungan ke rumah kerabat dan sahabat. Ucapan selamat serta pembagian angpao menjadi tradisi yang mempererat hubungan sosial.
Di berbagai daerah, masyarakat juga menggelar parade, pertunjukan barongsai, serta pasar rakyat di kelenteng.
Perayaan ditutup dengan Festival Lentera pada hari ke-15 kalender lunar. Ribuan lentera warna-warni dipamerkan. Lengkap dengan teka-teki yang digantungkan di setiap lampion.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: china daily