Menggugat Nalar 'Nrimo' Arek Suroboyo
ILUSTRASI Menggugat Nalar 'Nrimo' Arek Suroboyo.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
Jangan sampai ketangguhan warga justru dijadikan tameng oleh pemangku kebijakan untuk menutupi kelambanan antisipasi dan ketiadaan visi ekologis jangka panjang.
MEREKONSTRUKSI ”WANI” DEMI KEADILAN EKOLOGIS
Sudah saatnya makna filosofis dari slogan ”wani” direkonstruksi kembali agar relevan dengan tantangan urban masa kini. Berani tidak boleh lagi sekadar didefinisikan sebagai romantisme masa lalu melawan penjajah atau teriakan fanatisme di atas tribun stadion sepak bola.
Hari ini semangat ”wani” wajib diwujudkan dalam keberanian masyarakat menuntut hak atas ruang kota yang sehat, manusiawi, dan bebas dari ancaman genangan yang disengaja oleh buruknya perencanaan.
Kota sebesar Surabaya tidak bisa hanya dibangun berdasar estetika visual di atas meja gambar birokrat tanpa memedulikan siklus alam dan suara penderitaan warga di akar rumput. Mengatasi banjir tidak akan pernah selesai hanya dengan mengejar target serapan anggaran proyek box culvert pada akhir tahun anggaran.
Pemerintah harus berani mengambil langkah tidak populer dengan menagih tanggung jawab penyediaan ruang terbuka hijau dari pihak pengembang, merevitalisasi fungsi sungai menjadi lebih natural, dan menolak pemberian izin bangunan di kawasan resapan air yang tersisa.
Rentetan banjir dari akhir tahun lalu hingga genangan yang melumpuhkan berbagai wilayah di Surabaya itu seharusnya menjadi cermin koreksi yang besar. Jangan biarkan sikap nrimo terus-menerus menenggelamkan nalar kritis masyarakat sipil.
Sebab, pada hakikatnya, kota yang beradab bukanlah kota yang warganya pandai menertawakan genangan air, melainkan kota yang birokrasinya mampu memastikan tidak ada lagi warga yang harus menderita akibat kebijakan tata ruang yang salah arah. (*)
*) Achmad Muzakky Cholily, antropolog dan aktivis budaya Surabaya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: