Ramadan dan Kampus Berdampak: Dari Spiritualitas ke Aktualitas

Ramadan dan Kampus Berdampak: Dari Spiritualitas ke Aktualitas

ILUSTRASI Ramadan dan Kampus Berdampak: Dari Spiritualitas ke Aktualitas.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

Ilmu tanpa akhlak pada akhirnya hanya akan menjelma menjadi kesombongan intelektual yang hampa makna.

Puasa melatih integritas personal dengan menahan diri meski tak ada yang mengawasi. Itulah fondasi self control. Namun, kampus berdampak membutuhkan lebih dari sekadar kontrol diri, yaitu memerlukan transformasi kesadaran kolektif. 

BACA JUGA:Ramadan, Momentum Menahan Diri dari Pinjol

BACA JUGA:Ramadan dan Antropologi Rasa

Anggaran dikelola sebagai amanah, bukan sekadar kewenangan. Riset dikembangkan sebagai jalan pencerahan dan pemecahan masalah, bukan hanya instrumen reputasi institusi dalam kompetisi global. Pengabdian dipahami sebagai ibadah sosial, bukan sekadar kewajiban administratif.

Di titik itu, relevan gagasan Fazlur Rahman (1982) dalam Islam and Modernity: Transformation of an Intellectual Tradition. Rahman menekankan pentingnya membaca wahyu secara kontekstual dan progresif, yang menggerakkan spirit agama dari teks menuju transformasi sosial. 

Kampus tidak cukup menjadi penjaga tradisi keilmuan, tetapi juga harus menjadi motor pembaruan yang menjawab persoalan riil masyarakat.

BACA JUGA:Ramadan, Momentum untuk Melawan Darurat Korupsi

BACA JUGA:Ramadan dan Lebaran: Momentum Mencetak Generasi Unggulan

Ramadan mengajarkan keseimbangan antara iman, ilmu, dan amal. Keimanan melahirkan orientasi nilai, ilmu memberikan arah rasional, dan amal menjadi wujud konkret pengabdian. Ketiganya tak boleh dipisahkan. 

Kampus yang hanya kuat dalam ilmu dan teknologi, tetapi lemah dalam etika akan kehilangan ruhnya. Sebaliknya, etika tanpa ilmu akan kehilangan daya guna.

Dalam kerangka itu, pendidikan tinggi tidak cukup melahirkan lulusan cerdas secara intelektual. Pendidikan harus berdampak dengan menghadirkan insan akademis yang tajam nalar dan jernih nurani, insan pencipta yang inovatif dan solutif, dan insan pengabdi yang rela turun dan bersenyawa dengan masyarakat. 

Orientasi tersebut bukan sekadar retorika, melainkan juga orientasi etik gerakan kampus berdampak di tengah arus zaman.

DAMPAK NYATA

Spirit Ramadan harus menyeberang dari ruang spiritual menuju ruang sosial. Ibadah tidak berhenti di sajadah, tetapi juga menjelma menjadi keberpihakan kepada yang lemah, pembelaan terhadap keadilan, dan keberanian menyuarakan kebenaran. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: