Ramadan Mewujudkan Masyarakat Egaliter
ILUSTRASI Ramadan Mewujudkan Masyarakat Egaliter.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
Hal itu dilakukan dengan cara mengguyur anggota tubuh atau keramas disertai dengan ritual mandi yang memberikan kenyamanan tubuh/lahir dan batin ketika melaksanakan ibadah puasa.
BACA JUGA:Tetap Produktif Berkarya Selama Puasa Ramadan
BACA JUGA:Ramadan, Momentum Menahan Diri dari Pinjol
Sementara itu, di Madura dalam rangka untuk menyambut datangnya bulan Ramadan, masyarakat membaca surah Yasin tiga kali pada malam nisfu Syakban yang dilanjutkan keesokan harinya dengan membersihkan kuburan (dengan istilah ngusar makam) famili, keluarga terdekat yang sudah meninggal yang nantinya setelah salat Idulfitri diadakan acara nyalase ke makam tersebut.
Tradisi tersebut bukanlah datang begitu saja tanpa ada makna sosiologis yang dapat diambil hikmahnya. Misalnya, dalam tradisi megengan, para remaja berkumpul di masjid untuk berinteraksi dan bersosialisasi sekaligus mempererat tali persaudaraan di antara sesama.
Tradisi balimau kasai juga memiliki makna yang sangat mendalam yang secara sosiologis dipercaya untuk menghilangkan konflik sosial dan kekerasan di antara sesama.
Sebab, iri dan dengki merupakan sifat manusia yang merusak hati dan merusak integrasi sosial karena akan memunculkan konflik sosial.
Sedangkan tradisi Islam Madura pada malam nisfu Syakban (15 hari sebelum memasuki bulan Ramadan), umat Islam datang ke masjid untuk menjalani ritual keagamaan dengan membaca surat Yasin bersama-sama dengan keyakinan bahwa dengan datangnya bulan suci Ramadan, ada istilah pergantian buku/catatan amal perbuatan manusia.
Dengan pergantian catatan tersebut, manusia diharapkan mampu untuk berperilaku lebih baik di tahun berikutnya. Apalagi, secara sosiologis, dengan berkumpulnya umat Islam pada malam nisfu Syakban tersebut, para jamaah saling bersosialisasi dan berinteraksi.
RAMADAN MEWUJUDKAN MASYARAKAT EGALITER
Di Indonesia penyambutan bulan suci Ramadan dilakukan dengan tradisi yang beraneka ragam. Seperti yang penulis sebutkan di atas bahwa pelaksanaan ritual pada bulan Ramadan tidak hanya perintah Tuhan yang harus dilaksanakan, tetapi juga memiliki makna sosiologis yang sangat mendalam tentang perwujudan masyarakat yang egaliter.
Secara sosiologis, dasar status sosial yang terjadi di masyarakat adalah, pertama, kapital (kekayaan). Status seseorang diukur atas dasar banyaknya harta yang dimiliki. Makin banyak harta yang dimiliki oleh seseorang, makin tinggi dan makin dihormati masyarakat.
Kedua, power (kekuasaan). Seseorang makin memiliki jabatan yang tinggi seperti presiden, gubernur, anggota DPR, bupati dan sebagainya, statusnya lebih tinggi daripada seseorang yang tidak memiliki jabatan.
Ketiga, nobility (kehormatan) seseorang yang berasal dari keturunan darah biru. Keturunan kiai atau bahkan dari kasta brahmana memiliki status yang tinggi dan lebih dihormati masyarakat.
Keempat, education (pendidikan). Seseorang yang berpendidikan tinggi di masyarakat lebih dihormati dan dihargai jika dibandingkan dengan orang yang tidak berpendidikan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: