Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Airlangga di Aceh (2): Membangun Usaha Mikro yang Berkelanjutan

Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Airlangga di Aceh (2): Membangun Usaha Mikro yang Berkelanjutan

ILUSTRASI Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Airlangga di Aceh (2): Membangun Usaha Mikro yang Berkelanjutan.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

BAGAIMANA seharusnya melakukan upaya pemberdayaan bagi pelaku usaha mikro yang menjadi korban bencana? Pertanyaan itu tidak mudah untuk dijawab. Bagi pelaku usaha mikro yang berasal dari keluarga miskin, menjadi korban bencana ibaratnya adalah hantaman palu godam yang meluluhlantakan sisa-sisa daya tahan yang mereka miliki. 

Bisa dibayangkan, apa yang dapat dilakukan pelaku usaha mikro yang sehari-hari hidup serba kekurangan, tiba-tiba harus menerima bencana tambahan dalam bentuk banjir air dan tanah longsor yang membuat mereka kehilangan peralatan dan tempat usaha. 

Ketika tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Airlangga berkeliling ke desa-desa di Kabupaten Pidie, Aceh, kami menyaksikan masih banyak rumah penduduk dan sawah yang tertimbun tanah lumpur. 

Hujan yang hingga hari ini masih kerap turun pada sore hari membuat warga tidak mungkin dapat membersihkan rumah mereka yang tertimbun lumpur hingga setinggi setengah meter. 

BACA JUGA:Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Airlangga di Aceh (1): Memberdayakan Pelaku Usaha Mikro

Sebagian penduduk memilih tetap tinggal di tenda-tenda yang disediakan BPBN di tanah atau lahan yang tidak tertimbun lumpur. Meski bencana dahsyat sudah berselang tiga bulan, hingga kini dampaknya masih menyisakan akibat yang belum juga teratasi. 

Bagi masyarakat miskin, ketika rumah mereka tertimbun lumpur dan peralatan usaha mereka hilang, upaya untuk bertahan hidup sungguh tidak mudah. Bagi para petani yang selama ini menggantungkan hidup dari bercocok tanam, kini mereka tidak bisa lagi menggarap lahannya karena semua tertutup lumpur. 

Sementara itu, bagi pelaku usaha mikro yang selama ini berdagang atau membuka usaha di rumahnya, mereka juga kehilangan kesempatan untuk melanjutkan usahanya karena rombong tempat mereka menjajakan barang dagangan musnah terseret banjir. 

Seorang penjual jajanan gorengan yang ikut dalam kegiatan pendampingan yang dilakukan Universitas Airlangga menuturkan bagaimana ia sekarang kebingungan bagaimana bisa berjualan kembali ketika rombong dan peralatan memasaknya hilang tersapu banjir.

FOKUS PEMBERDAYAAN

Dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat, Universitas Airlangga melakukannya di Kabupaten Pidie. Kami menyadari masih banyak daerah lain di Aceh yang kondisinya lebih parah daripada Kabupaten Pidie. 

Kabupaten Aceh Tamiang, misalnya, kondisinya jauh lebih memprihatinkan. Kami memilih Kabupaten Pidie atas saran dan dukungan dari salah seorang alumni Universitas Airlangga, yakni Dr Ibrahim Chalid, seorang dosen antropologi Universitas Malikussaleh (Unimal). 

Pidie adalah salah satu kabupaten di Provinsi Aceh dan merupakan kabupaten dengan jumlah penduduk terbesar kedua di Provinsi Aceh setelah Kabupaten Aceh Utara. Jumlah penduduk Pidie pada akhir tahun 2023 tercatat sebanyak 444.898 jiwa, dengan kepadatan 181 jiwa/km2. 

Selain Unimal, mitra kami melakukan upaya pendampingan para pelaku usaha mikro adalah Yayasan Peduli Pembangunan Ekonomi Pesisir Aceh (YAPPERA). 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: