Bursa Indonesia Ditutup dengan 734 Emiten Merosot

Bursa Indonesia Ditutup dengan 734 Emiten Merosot

PERDAGANGAN VALASS DAN SAHAM di Korea Selatan. Kospi dan Kosdag, yang mengalami penutupan sementara karena harga turun, 4 Maret 2026.-JUNG YEON-JE-AFP-

Blokade Selat Hormuz oleh Iran nyatanya tak hanya menahan kapal tanker pengangkut minyak. Tapi juga menahan grafik pasar saham global di zona merah. 

PEMAIN saham di Indonesia babak belur. Bertubi-tubi. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup hari yang melelahkan dengan tersungkur dalam. Pada penutupan perdagangan Rabu, 4 Maret 2026, IHSG finis dengan koreksi tajam sebesar 362,70 poin atau anjlok 4,57 persen ke level 7.577,06. Nilai transaksinya sebesar Rp29,72 triliun dengan volume transaksi sebanyak 53,61 miliar saham

Sepanjang sesi, mayoritas saham tak mampu bertahan di zona hijau. Grafik merah saham itu sebenarnya sudah terasa saat dibukanya perdagangan pada Rabu pagi. Tekanan jual sudah terasa sangat pekat. Alih-alih membaik, aksi lepas saham justru semakin masif di jam-jam terakhir perdagangan. Banyak investor asing melakukan net sell atau jual bersih. 

Dampaknya, saat perdagangan ditutup 734 emiten merosot. Hanya 54 emiten yang menanjak. Sementara 33 saham lainnya stagnan. 

BACA JUGA:Ketika Emas Meroket dan Bursa Saham Morat-Marit: Geopolitik Mengalahkan Ekonomi

BACA JUGA:Kiat Sukses Investor Pemula di Dunia Bursa Saham, Bisa Berhasil dengan Pendamping

Remuknya pasar saham itu ini tak hanya berlaku di Indonesia. Bursa pasar Asia juga mencatatkan rapor merah. Bahkan ada yang lebih buruk. 

Bursa saham Jepang Nekkei 225 merosot hingga 3,61 persen. Sementara bursa Taiwan, Indeks Taitex, turun 4,35 persen. Indeks Kopsi milik Korea Selatan jauh lebih parah lagi. Anjlok hingga 12,06 persen. Penurunan tajam itu sempat memicu penghentian perdagangan sementara. 

Kepala Strategi Investasi Saxo di Singapura Charu Chanana mengatakan, fenomena rapor merah di bursa Asia ini dipicu aksi jual yang tak terkendali. Pasar tak lagi menganggap guncangan politik di Timur Tengah saat ini akan berlangsung lama.”Akibatnya, fase ’jual apa pun yang bisa Anda jual’ semakin meluas,” katanya kepada Reuters. 

Sementara itu, Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI Irvan Susandy mengatakan pelemahan tajam IHSG terjadi seiring pergerakan bursa saham regional yang juga mengalami koreksi signifikan. Tekanan di pasar saham domestik tidak berdiri sendiri. Tapi bagian dari sentimen risk-off global yang dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik.


PAPAN ELEKTRONIK penanda pergerakan harga saham di Nikkel Stock Average ditampilkan di Tokyo, 4 Maret 2026.-KAZUHIRO NOGI-AFP-

”Pergerakan IHSG sejalan dengan pergerakan indeks regional lain yang juga turun tajam, seperti Kospi, SET, Kosdaq, Nikkei, Taiwan TAIEX, dan ASX,” ujar Irvan kepada wartawan, Rabu, 4 Maret 2026.

Pengamat Instrumen Investasi dari Universitas Airlangga Gagas Gayuh Aji mengatakan, kondisi pasar saham hari-hari ini adalah dampak dari ketidakpastian global. Kondisi ambruknya saham itu diprediksi bakal berlangsung cukup lama. Di tengah tensi ketegangan di Timteng yang tak kunjung surut. 

Akibatnya banyak investor saham angkat kaki dengan aksi jual besar-besaran. ”Kondisi itu tak hanya dilakukan oleh investor besar. Trader dan ritel pun melakukan hal sama. Mereka khawatir,” kata Gagas kepada Harian Disway. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: