Nestapa Punch, Monyet Jepang yang Beribu Boneka Orangutan: Publik Simpati, Boneka Jadi Laris
PUNCH BERSAMA BONEKA orangutan di salah satu sudut Ichikawa City Zoo, Jepang, 19 Februari 2026.-JIJI PERS VIA AFP-
Sebelum sampai ke tahap itu, pengasuh mencoba berbagai cara agar Punch bisa berlatih hidup seperti monyet lain. Mereka menyediakan handuk digulung dengan ketebalan berbeda agar bisa digenggam.
Namun, menurut penjaga kebun binatang, Kosuke Shikano, bayi macaque biasanya langsung menempel pada tubuh induknya. Itu untuk membangun kekuatan otot sekaligus rasa aman.
BACA JUGA:Long Weekend Natal, Pengunjung Kebun Binatang Surabaya Naik Lima Kali Lipat
“Tapi, karena telantar, Punch tak punya apa pun untuk berpegangan,’’ ujarnya seperti ditulis kantor berita Agence France-Presse, 24 Februari 2026. Pengelola kebun binatang lantas memberikan boneka orangutan. Bentuknya yang mirip monyet diharapkan membantu Punch beradaptasi kembali ke kelompok.
Boneka itu diproduksi raksasa furnitur Swedia, IKEA. Setelah foto Punch memeluk boneka beredar, boneka orangutan itu pun laris banget. Produk itu bahkan dilaporkan habis stoknya di beberapa pasar. Termasuk Jepang dan Amerika Serikat.
Fenomena itu memperlihatkan bahwa publik bisa digerakkan oleh gambar dan video pada media sosial. Bisa tergerak emosinya plus gairah konsumtifnya. Tapi, di balik itu, ada problem biologis yang lebih kompleks.
Alison Behie, ahli primatologi dari Australian National University, menjelaskan bahwa penolakan induk terhadap bayi memang tidak umum. Tetapi bisa terjadi dalam kondisi tertentu. Faktor usia, kesehatan, dan kurangnya pengalaman menjadi kemungkinan penyebab.
“Dalam kasus Punch, ibunya baru punya anak pertama. Artinya, tidak berpengalaman,’’ ujar Behie seperti dikutip The Guardian, Selasa, 24 Februari 2026.

PUNCH menyeret boneka orangutan di Ichikawa City Zoo, Prefektur Chiba, Jepang.-JIJI PERS VIA AFP-
Punch juga lahir saat gelombang panas melanda. Lingkungan dengan tekanan tinggi dapat memengaruhi perilaku induk. Dalam situasi ketika kelangsungan hidup terancam, induk bisa memprioritaskan kesehatan dan peluang reproduksi berikutnya. Bayi yang masih rentan pun rawan ditelantarkan.
Tentang perilaku monyet lain yang terekam menyeret atau mengejar Punch, Behie menilai itu bukan perundungan dalam arti manusia. “Itu adalah cara mereka berinteraksi,” katanya. Monyet Jepang hidup dalam hierarki matrilineal yang ketat. Keluarga ’’berkasta’’ lebih tinggi bisa sangat dominan pada mereka yang lebih rendah derajatnya.
Namun, ketiadaan induk tetap berpengaruh. Tanpa bimbingan, Punch mungkin tidak mengembangkan respons tunduk yang tepat saat menghadapi dominasi. Dampaknya bisa berlanjut hingga dewasa. Bisa memengaruhi posisinya dalam kelompok.
Carla Litchfield, psikolog konservasi dari Adelaide University, melihat kisah itu sebagai potret yang lebih luas: hilangnya habitat, perubahan iklim, kesejahteraan satwa kebun binatang, hingga kekuatan media sosial membentuk persepsi publik.
Ia juga mengingatkan potensi dampak lain. Popularitas bayi monyet yang dianggap lucu bisa memicu minat terhadap perdagangan ilegal satwa eksotik.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: