Profil Omah Dongeng Marwah, PKBM di Kudus yang Mendidik Tiyo Ardianto
Kegiatan belajar mengajar di Omah Dongeng Marwah, Kudus, Jawa Tengah.--Instagram @omahdongeng
Sikap kritis tersebut disebut tak lepas dari proses pembelajaran yang ia jalani di lingkungan pendidikan alternatif.
Apa Itu Omah Dongeng Marwah?
Omah Dongeng Marwah merupakan sebuah Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKMB) yang menyelnggarakan pendidikan kesetaraan Paket B (setara SMP) dan paket C (setara SMA).
Melansir dari laman resminya, Omah Dongeng Marwah berdiri sejak 2014 dan berfokus pada pengembangan bakat dan minat anak melalui sanggar belajar serta jalur pendidikan kesetaraan.
Lembaga tersebut berada di bawah pembinaan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah serta telah terakreditasi B dengan memiliki izin operasional sejak 2017.
Keberadaan Omah Dongeng Marwah menunjukkan bahwa pendidikan nonformal mampu menjadi alternatif berkualitas di luar sekolah formal.
Lembaga itu telah melahirkan peserta didik berprestasi, salah satunya Tiyo Ardianto yang kini menjabat sebagai ketua KM BEM di Universitas Gadjah Mada.
Secara lokasi, Omah Dongeng Marwah berada di Jalan Ngasinan No.9, Desa Purworejo, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah.
BACA JUGA:Kemenag Tegaskan Tak Ada Kebijakan Zakat untuk Program MBG, Penyaluran Wajib Sesuai Syariat
BACA JUGA:Bertemu Para Pengusaha AS, Prabowo Pamerkan Program MBG dan Danantara
Omah Dongeng Marwah Milik Aktivis 98?
Omah Dongeng Marwah diketahui merupakan lembaga pendidikan alternatif yang lahir dari inisiatif para aktivis 98. Salah satu pendirinya adalah Hasan Aoni Aziz selaku mantan aktivis 98 yang merupakan lulusan UIN Walisongo Semarang.
Dalam mendirikan Omah Dongeng Marwah, Hasan Aoni tidak bergerak sendiri. Ia bersama aktivis sosial, aktivis lingkungan, jurnalis, guru, serta mahasiswa di Kudus dalam membangun Omah Dongeng Marwah sebagai lembaga pendidikan alternatif.
Hasan Aoni menjelaskan bahwa kehadiran lembaga ini berangkat dari keprihatinan terhadap tradisi mendongeng yang semakin jarang ditemui dalam proses pendidikan anak.
Ia juga menegaskan bahwa konsep pendidikan anti-mainstrem yang diterapkan Omah Dongeng Marwah bukan hasil pemikiran satu orang, melainkan buah kolaborasi kolektif lintas latar belakang.
Prinsip kolaborasi inilah yang menjadi fondasi utama lembaga tersebut hingga berkembang sebagai PKBM yang diakui secara resmi. (*)
*) Aisyah Aulia Maulana Putri, peserta magang dari Universitas Negeri Surabaya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: