Antisipasi Krisis Energi Global, Pemerintah Bangun Storage Minyak Raksasa di Sumatra

Antisipasi Krisis Energi Global, Pemerintah Bangun Storage Minyak Raksasa di Sumatra

Menteri ESDM Bahli Lahadalia memastikan pemerintah bangun storage minyak di Sumatra.-Dok. Kementerian ESDM-


Resah akibat isu stok BBM, warga terpantau berbondong-bondong antre di SPBU hingga malam hari sambil membawa jerigen demi mengamankan pasokan pribadi di tengah ketidakpastian.--Instagram

Situasi global pun makin tak pasti. Pemerintah Indonesia sendiri sudah menyiapkan ancang-ancang. Salah satunya menjadikan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebagai instrumen penyangga.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan, pemerintah tetap mempertahankan kebijakan subsidi energi untuk menjaga daya beli masyarakat.

BACA JUGA:Saudi Siap Ambil Semua Langkah Hadapi Eskalasi Perang AS–Israel vs Iran

BACA JUGA:IAEA: Belum Ada Bukti Iran Bangun Bom Nuklir

Bagi Indonesia, imbuhnya, ada dua sisi. Di satu sisi terkait dengan subsidi akan tetap dijaga dan dilanjutkan. APBN pun difungsikan sebagai buffer untuk meredam fluktuasi harga.

Menurutnya, lonjakan harga komoditas global juga berpotensi meningkatkan penerimaan negara. Namun, pemerintah menilai masih terlalu dini untuk menarik kesimpulan mengenai dampak konflik terhadap ekonomi nasional.

“Tetapi di lain pihak tentu ada kenaikan tambahan penerimaan kalau komoditas itu naik. Tapi kita tentu melihat situasinya masih too early to call,” ujar Airlangga kepada wartawan di Jakarta, kemarin.

Langkah krusial juga sedang ditempuh. Pemerintah menyiapkan alternatif pasokan energi jika konflik mengganggu distribusi minyak di Timur Tengah. Airlangga menyebut Indonesia menjalin kerja sama perdagangan energi dengan AS. 

BACA JUGA:Dampak Perang Iran dan Kemesraan AS-Inggris: Inggris Tak Lagi Setia Seperti Dulu

BACA JUGA:Trump Plinplan, Tujuan Serangan ke Iran Tidak Jelas dan Inkonsisten

Bahkan, punya akses pasokan melalui PT Pertamina dari Venezuela. Sebagaimana kesepakatan dalam Agreement of Reciprocal Trade (ART) yang ditandatangani Presiden Prabowo Subianto beberapa waktu sebelumnya.

Ya, Indonesia berkomitmen membeli komoditas energi senilai sekitar USD15 miliar dalam kesepakatan perdagangan resiprokal Indonesia-AS itu.Nilai tersebut mencakup impor LPG sebesar USD3,5 miliar, minyak mentah USD4,5 miliar, serta bensin hasil kilang sekitar USD7 miliar.

Airlangga menilai situasi saat ini mengingatkan pada lonjakan harga energi ketika terjadi Perang Rusia-Ukraina beberapa tahun lalu. “Ya kita pernah mengalami saat perang Ukraina, dan pada saat itu harga minyak naik tinggi dan harga komoditas naik tinggi,” ujarnya.

Tak cuma itu. Pemerintah pun terus memperkuat cadangan energi nasional. Salah satunya dengan mempercepat pembangunan fasilitas penyimpanan minyak mentah.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: