Mengapa (Indonesia) Seharusnya Berpihak kepada Iran?
ILUSTRASI Mengapa (Indonesia) Seharusnya Berpihak kepada Iran?-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
Namun, kekalahan terbesar koalisi Arab terjadi pada perang dengan israel tahun 1967 (Six Day War). Pada perang itu, koalisi negara Arab, yaitu Mesir, Suriah, Yordania, Irak, dan Lebanon, kalah.
BACA JUGA:Iran Luncurkan Rudal Khoramshahr-4 ke Tel Aviv, Bawa 80 Bom Tandan
BACA JUGA:Konflik AS–Israel dan Iran Memanas, Kemlu Pastikan WNI Aman Meski Ada yang Terdampar
Wilayah jajahan israel pun makin luas dengan keberhasilan mengambil alih Dataran Tinggi Golan dari Suriah, Gurun Sinai dan Jalur Gaza dari Mesir, serta Tepi Barat dan Yerusalem Timur dari Yordania.
Pada perang selanjutnya tahun 1973 (Perang Yom Kippur), israel kalah dan Mesir berhasil menguasai kembali Gurun Sinai dan Terusan Suez. Sayang, perang itu selesai dengan gencatan senjata meskipun Dataran Tinggi Golan, Jalur Gaza, dan Yerusalem Timur tetap dikuasai israel. Gaza kembali dikuasai rakyat Palestina pada 2005.
Perang Yom Kippur adalah perang besar Arab-israel terakhir sebelum terjadinya perang antara Iran dan koalisi israel-amerika serikat (AS) tahun ini.
POSISI IRAN DALAM KONFLIK ARAB-ISRAEL
Kita tidak akan menemukan peran atau keterlibatan Iran pada perang antara negara-negara Arab dan israel sebelum tahun 1979. Pemerintahan Iran sebelum Revolusi Islam tahun 1979 adalah wajah Iran yang sama sekali berbeda dengan Iran yang kita kenal saat ini.
Sebelum Revolusi Islam, Iran adalah negara monarki di bawah raja (syah) terakhir Reza Pahlevi. Sebelum revolusi Islam, Iran adalah satu di antara dua negara berpenduduk mayoritas Islam yang mengakui berdirinya negara israel. Satu negara lainnya adalah Turkiye.
Kesuksesan Revolusi Islam Iran tahun 1979 dengan berdirinya Republik Islam Iran yang dipimpin Ayatollah Ruhollah Khomeini, membuat peta geopolitik di Timur Tengah juga berubah.
Ketika negara-negara Arab seperti Arab Saudi, Yordania, Kuwait, Bahrain, Mesir, Suriah, Uni Emirat Arab, dan Qatar makin mesra dengan AS dan makin terbuka menerima ”kehadiran” israel, Iran tetap pada sikap yang sama: memperjuangkan kemerdekaan Palestina dan melawan imperialisme israel kepada Palestina.
Republik Islam Iran menjadi tantangan baru bagi AS dan israel di Timur Tengah.
Pernah ada dua negara yang juga sulit ditundukkan AS dan israel, yaitu Irak di bawah Saddam Hussein dan Libya di bawah Moammar Qadafi.
Sayangnya, Saddam Hussein dan Moammar Qadafi dapat dijatuhkan AS dan israel melalui kepanjangan tangan antek-antek imperialis di Irak dan Libya.
Ketika negara-negara Arab sudah menjadi good boy bagi AS dan israel, pada saat yang sama bangsa Palestina makin jauh dari merdeka, kehadiran Iran menjadi oasis dalam perjuangan melawan hegemoni dan imperialisme dunia, khususnya di Timur Tengah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: