Mengapa (Indonesia) Seharusnya Berpihak kepada Iran?
ILUSTRASI Mengapa (Indonesia) Seharusnya Berpihak kepada Iran?-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
ADA DUA sikap pemerintah Indonesia dalam politik luar negeri yang agak berbeda dari pemerintah-pemerintah sebelumnya terkait konflik negara-negara Islam dengan israel dan sekutunya. Khususnya menyikapi serangan israel dan amerika serikat (29 Februari 2026) pekan lalu ke Iran yang mengakibatkan gugurnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.
Selain tidak menyampaikan kecaman dan keprihatinan atas serangan israel ke Iran, pemerintah tidak menyampaikan dukacita secara langsung atas wafatnya Ali Khamenei. Apakah itu awal arah perubahan kebijakan politik luar negeri Indonesia?
AKAR KONFLIK DI TIMUR TENGAH
Sebagian besar, atau bahkan mungkin seluruhnya, konflik militer besar yang terjadi di Timur Tengah sejak usainya Perang Dunia II berakar pada satu persoalan paling mendasar: berdirinya negara israel di Negara Palestina. Ketika keluar resolusi PBB untuk membagi wilayah Palestina menjadi dua (UN Partition Plan) pada 1947, negara-negara Arab menolak resolusi tersebut.
BACA JUGA:Jawab Trump, Presiden Iran Nyatakan Negaranya Tak Akan Menyerah ke Amerika
BACA JUGA:Hari Ketujuh Perang, Iran Lancarkan Operasi Janji Sejati Gelombang 24
Apalagi, wilayah untuk warga Yahudi lebih luas (dibandingkan dengan wilayah untuk warga Arab Palestina (56:42). Apalagi, dalam resolusi tersebut, Kota Al-Quds (Yerusalem) ditetapkan sebagai kota dengan yurisdiksi internasional. Padahal, di Al-Quds berdiri Masjidilaqsa, satu di antara tiga masjid yang paling disucikan umat Islam.
Di tengah pertentangan terkait UN Partition Plan tersebut, pada 14 Mei 1948 tokoh zionis david ben gurion mendeklarasikan berdirinya negara israel di Tanah Palestina. Itulah yang menjadi pemicu meletusnya perang antara negara-negara Arab dan israel.
Perang Arab-israel kali pertama pecah pada 1948. Koalisi negara Arab yang terlibat adalah Mesir, Suriah, Yordania, Irak, Lebanon, dan Arab Saudi.
BACA JUGA:Rudal Iran Hujani Kota-Kota di Israel, Kerusakan Meluas Saat Sishanud Kewalahan
BACA JUGA:Trump Wajibkan Iran Menyerah Tanpa Syarat untuk Akhiri Perang
Sayangnya, pada perang Arab Pertama itu, koalisi negara Arab kalah yang mengakibatkan hampir satu juta warga Palestina diusir dari tanah mereka dan menjadi pengungsi. Peristiwa itu kemudian dikenal dengan istilah nakba atau katastrofe (kehancuran).
Dampak dari Perang Arab Pertama, israel memperluas wilayah mereka di Palestina. Meski koalisi negara Arab kalah, wilayah Tepi Barat berhasil dikuasai Yordania dan Mesir menguasai Jalur Gaza.
Perang besar Arab-israel selanjutnya terjadi pada 1956, israel didukung Inggris dan Prancis yang menyerang Mesir setelah Presiden Gamal Abdul Nasser menasionalisasi Terusan Suez. Dalam perang tersebut, Mesir kalah dan Gurun Sinai dikuasai israel hingga tahun 1957.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: