Cara Ngadirejo Membayar Kuliah dengan Udara (1): Dana Abadi Beasiswa dari Pohon Cemara
Penyerahan souvener dari Kepala Divisi Regional Jawa Timur (Wawan Triwibowo, S.Hut., M.Hut., baju warna putih tengah) kepada Prof. Dr. H. Muhammad Adib, Drs., MA. (Berpeci dan berjas Batik warna kuning kecoklatan) seusai Diskusi Penyiapan Beasiswa kepada -Dokumen Pribadi-
Kami menyebutnya "Dunia Sabda" (Duda). Bukan sekadar Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI). Mengapa Sabda?
Karena alam adalah sabda Tuhan yang nyata. Di Ngadirejo, “sasmita” atau tanda-tanda alam itu terbaca lewat 62 sumber mata air. Ada mata air yang hanya muncul setelah doa, ada yang airnya jernih karena dijaga oleh mitos leluhur. Antropologi tidak membuang mitos itu, tapi menjadikannya Unique Value Proposition (UVP) dalam sertifikasi karbon. Karbon dari Ngadirejo akan lebih mahal harganya karena di sana ada narasi penjaga air, ada sejarah Prabu Brawijaya, dan ada komitmen pendidikan.
Bagi saya, riset tidak boleh berhenti di rak perpustakaan atau jurnal Scopus semata. Riset harus "melaju"—seperti semangat Jatim Melaju—hingga ke dapur-dapur warga.
Pertemuan dengan Perhutani kemarin adalah sebuah janji. Bahwa Laboratorium Antropologi akan memberikan dukungan manajerial dan saintifik agar Satgas Peduli Air Nusantara di desa itu professional dan akuntabel. Kita akan membuktikan bahwa menjaga planet (Planet), memberi manfaat bagi rakyat (People), bisa berjalan beriringan dengan keuntungan (Profit).
BACA JUGA:4 Kategori Besar Upacara Masyarakat Tengger, Tidak Hanya Yadnya Kasada
BACA JUGA:Gonggo Mino, Musik Khas Masyarakat Tengger Desa Ngadiwono, Dimainkan Jelang Yadnya Kasada
Jika eksperimen di Ngadirejo ini berhasil, Jawa Timur akan punya model nasional. Sebuah model di mana hutan tidak lagi dijaga dengan senjata, tapi dijaga dengan rasa syukur karena setiap pohon Cemara Gunung yang tumbuh adalah satu langkah lebih dekat bagi putra-putri peradaban Tengger untuk meraih gelar sarjana.
Karena pada akhirnya, investasi terbaik bukan pada karbonnya, tapi pada manusianya. Pohon boleh ditebang setelah satu jangka, tapi ilmu pengetahuan akan tumbuh abadi melintasi generasi. (*)
*) Antropolog Ekologi, Kepala Laboratorium Manusia, Budaya, dan Ragawi (Antropologi) FISIP Universitas Airlangga Surabaya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: