Pembunuhan Gadis di Kamar Hotel di Medan: Kasus Misoginistik
ILUSTRASI Pembunuhan Gadis di Kamar Hotel di Medan: Kasus Misoginistik.-Arya/AI-Harian Disway-
Cewek itu: ”Seks sering disebut sebagai ’cracking’ oleh kelompok usia saya, di mana laki-laki yang melakukan cracking dan perempuan yang di-cracking. ’Body count’ –mengacu pada berapa kali seseorang telah berhubungan seks– hanya digunakan untuk merendahkan perempuan.”
Dilanjut: ”Seorang gadis dengan ’body count tinggi’ dianggap ’sudah terpakai’ dan tidak lagi berharga. Kamu selalu bisa tahu jika dia sudah sering berhubungan seks, kata seorang anak laki-laki di Instagram.”
Misoginitik sangat jelas tergambarkan dalam film serial Adolescence, sudah dirilis di Netflix sejak 13 Maret 2025.
Adolescence mengisahkan tentang sebuah keluarga yang mengalami perubahan drastis setelah Jamie Miller (diperankan Owen Cooper), anak laki-laki berusia 13 tahun, ditangkap atas tuduhan pembunuhan seorang gadis seusianya yang bersekolah di tempat yang sama dengannya.
Keluarga Miller harus menghadapi kenyataan pahit ketika kehidupan mereka yang tampaknya normal berubah menjadi mimpi buruk.
Selain mengikuti perjalanan keluarga itu, serial tersebut juga menggali lebih dalam tentang tekanan yang dihadapi remaja saat ini, baik dari lingkungan, pergaulan, internet, maupun media sosial.
Misoginitik sesungguhnya bentuk karakter purba laki-laki. Cuma, baru ditemukan istilahnya belakangan ini. Kemudian, disebarkan ke medsos. Itu seperti mengarahkan anak dan remaja laki-laki untuk berperilaku seperti itu.
Dikutip dari Daily Mail, 12 Maret 2026, berjudul Boys as young as 11 are being exposed to misogyny online: Study reveals how 73% have encountered harmful content without actively searching for it, mengungkapkan hal itu. Itu hasil riset.
Disebutkan, para ahli di Inggris memperingatkan bahwa anak laki-laki semuda 11 tahun terpapar misogini secara daring, dengan tiga perempatnya mengatakan bahwa konten berbahaya muncul tanpa mereka mencarinya secara aktif.
Sebuah studi menemukan bahwa remaja laki-laki menerima konten yang ditargetkan yang mempromosikan kekerasan dan pandangan merendahkan terhadap perempuan.
Hal itu menyusul dampak luas dari serial drama Netflix berjudul Adolescence, yang menceritakan kisah seorang anak laki-laki berusia 13 tahun yang secara brutal membunuh teman sekelasnya.
Itu terjadi bersamaan dengan film dokumenter Louis Theroux berjudul Inside The Manosphere yang membuat para orang tua ”ketakutan” oleh ”perilaku beracun dan pandangan ekstremis” dari dunia influencer pria alfa.
Acara itu mengeksplorasi bagaimana para influencer ekstremis memanipulasi anak laki-laki muda dengan ide-ide mereka seputar maskulinitas dan peran gender.
Dan, meskipun orang tua –tentu saja– akan merasa ngeri melihat pemandangan tersebut, kemungkinan besar putra-putra mereka sudah melihatnya di situs media sosial seperti Instagram dan TikTok.
Survei terhadap 500 remaja laki-laki berusia 11–14 tahun di Inggris mengungkapkan, 73 persen telah melihat konten misoginistik atau berbahaya secara daring –rata-rata dalam waktu 18 menit setelah masuk ke akun mereka.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: