Kampung-Kampung Ikonik Sidoarjo (15): Kampung Sandal dan Sepatu Wedoro, Pasang Surut dalam Ingatan

Kampung-Kampung Ikonik Sidoarjo (15): Kampung Sandal dan Sepatu Wedoro, Pasang Surut dalam Ingatan

Karyawan bengkel Imron di Wedoro, Sidoarjo. Satu dari sedikit perajin yang masih bertahan.-Raden Khansa Pandya Amorta-Harian Disway

Di tengah perubahan drastis, masih ada beberapa perajin sepatu dan sandal di Wedoro. Seperti Imron. Ia juga mengenang Wedoro Fair. Sebagai cerita masa jaya yang mungkin tak akan terulang. Kini, para perajin diabaikan. Tak ada perhatian. Mereka tetap berjuang sendiri.

Industri sepatu dan sandal Wedoro pernah mengalami masa jaya. Penelusuran Harian Disway tidak berhenti di pojok Pertokoan Sepatu-Sandal Palapa saja.

Pada 18 Februari 2026, mendung menggelayut. Langit gelap. Seperti suramnya para perajin setempat yang masih bertahan.

Obrolan ringan dengan warga sekitar menunjukkan titik-titik produksi yang masih bertahan. Hingga Harian Disway diarahkan menuju sebuah gang kecil. Gang Anggrek. Letaknya di samping minimarket Wedoro. 

BACA JUGA:Kampung-Kampung Ikonik Sidoarjo (14): Kampung Sepatu dan Sandal Wedoro dan Geliat yang Tersisa

BACA JUGA:Kampung-Kampung Ikonik Sidoarjo (13): Identitas Kampung Sepatu dan Sandal Wedoro Pudar Digerus Barang Impor


Gang Anggrek, Wedoro. Dulu, gang itu dipenuhi para perajin dan UMKM sepatu dan sandal. Tapi kini, hanya tersisa usaha milik Imron.-Raden Khansa Pandya Amorta-Harian Disway

Di tengah guyuran hujan yang semakin deras, Harian Disway berlari kecil memasuki gang tersebut. Bangunan-bangunan di gang itu dulu digunakan sebagai aktivitas produksi. Tapi sekarang telah banyak berubah. Aktivitas semacam itu kini mulai langka. 

Setelah melewati beberapa rumah, terdapat bangunan toko dengan cat berwarna hijau muda mencolok. Disitu terlihat aktivitas produksi yang cukup sibuk.

Tumpukan sandal hasil produksi tampak sudah diikat rapi menggunakan tali rafia. Beberapa karyawan memasukkannya ke dalam plastik bening berukuran besar. Sepertinya siap dikirim ke pelanggan.

Harian Disway bertemu dengan Imron, pemilik usaha itu. Namanya memang hanya satu kata. Ia warga asli Wedoro. Perajin.

BACA JUGA:Kampung-Kampung Ikonik Sidoarjo (12): Kampung Topi Punggul Butuh SDM Paham Digital

BACA JUGA:Kampung-Kampung Ikonik Sidoarjo (11): Kampung Topi Punggul Kekurangan Tenaga Penjahit

Masih berproduksi sejak masa jaya sampai saat ini. Imron merupakan generasi penerus. Ia melanjutkan estafet usaha dari orang tuanya.

Ia mempersilakan Harian Disway masuk. "Tidak apa-apa ya, saya sambi merapikan sandal begini," ujarnya. Sandal-sandal itu dikemas olehnya satu-persatu.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: harian disway