Guru Besar Unair di Solo: Idulfitri Momentum 'Fitrah Kebijakan' dan Keadilan Ekologi di Tanah Jawa

Guru Besar Unair di Solo: Idulfitri Momentum 'Fitrah Kebijakan' dan Keadilan Ekologi di Tanah Jawa

Suasana ceramah Halal bi Halal di Gedung Solo Pos Kota Solo, Senin, 23 Maret 2026.-Dokumen Pribadi-

HARIAN DISWAY - Guru Besar Antropologi Ekologi Universitas Airlangga (Unair), Prof. Dr. Drs. Muhammad  Adib, MA., menegaskan bahwa esensi kemenangan Idulfitri 1447 H harus bermanifestasi menjadi kesalehan sosial yang nyata, khususnya dalam bentuk keadilan ekologi dan penyelesaian sengketa lahan di Pulau Jawa.

Hal tersebut disampaikan Prof. Adib saat memberikan ceramah hikmah Halal bi Halal di hadapan 400-an aundiens, Keluarga Besar Bani KH. Muhammad Faqih yang berlangsung di Gedung Solo Pos, Surakarta, Senin, 23 Maret 2026.

Dalam orasi ilmiah bertajuk “Memetik Fitrah di Bumi Bengawan”, Prof. Adib menyoroti posisi Jawa sebagai pulau dengan populasi terpadat di dunia yang kini menghadapi tekanan ekologis luar biasa. Menurutnya, krisis lingkungan dan konflik agraria yang berkepanjangan adalah bentuk "dosa struktural" yang harus dibasuh melalui kebijakan yang berpihak pada rakyat.

“Idulfitri adalah momentum untuk kembali ke fitrah. Namun, fitrah manusia tidak eksis di ruang hampa; ia berpijak di atas bumi yang sedang dirundung krisis. Perubahan perilaku pasca-Ramadhan bagi pemangku kebijakan seharusnya mewujud dalam ‘Fitrah Kebijakan’, yaitu keberanian menegakkan hukum lingkungan yang adil dan presisi,” ujar Prof. Adib di hadapan ratusan anggota keluarga besar Bani KH. M. Faqih.

BACA JUGA:Panta Rhei Idulfitri 1447 H: Mengalirkan Fitrah Spiritual Menuju Presisi Keadilan Ekologi

BACA JUGA:Mengenal Ragam Sesaji dalam Tradisi Masyarakat Hindu Tengger

Kritik Kebijakan dan Keadilan Tenurial 

Sebagai pakar yang mendalami sengketa lahan, Prof. Adib menggarisbawahi implementasi kebijakan Kawasan Hutan Dengan Pengelolaan Khusus (KHDPK). Ia memperingatkan bahwa tanpa pengelolaan yang transparan dan berbasis data akurat, kebijakan tersebut berisiko memicu konflik horizontal di tingkat akar rumput.

Ia mencontohkan riset mendalamnya di Desa Manggis, Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri. Di sana, resolusi konflik sering kali terbentur ego sektoral. “Negara harus berhenti memandang petani atau pesanggem sebagai perambah. Fitrah kepemimpinan adalah menjadikan masyarakat lokal sebagai mitra konservasi, bukan objek represi,” tegas Kepala Laboratorium Manusia, Budaya, dan Ragawi FISIP Unair ini.

Utang Peradaban 

Menutup ceramahnya, penulis buku “Sedhakep Angawe-Awe” (2026) ini mengajak audiens untuk menjadi "Manusia Ekologis"—sosok yang mampu menyelaraskan perilaku dengan hukum alam. Ia menekankan bahwa keadilan tenurial bukanlah sedekah dari penguasa, melainkan utang peradaban yang harus dibayar lunas demi masa depan generasi mendatang di Pulau Jawa.

“Jika setelah Idulfitri kita masih menyaksikan petani terusir demi kepentingan segelintir oligarki, maka sesungguhnya kita sedang merayakan ‘Idulfitri palsu’. Mari kita alirkan energi spiritual ini menjadi arus keadilan yang menyejukkan bagi semesta,” pungkasnya.


Prof. Dr. Drs. Muhammad Adib, MA.saat menyapaikan Ceramah di Gedung Solo Pos, Surakarta, Senin, 23 maret 2026.-Dokumen Pribadi-

Kegiatan ini merupakan pertemuan rutin ke-47 Keluarga Besar Bani KH. Muhammad Faqih yang bertujuan mempererat silaturahmi sekaligus memperkaya wawasan kebangsaan dan keagamaan melalui perspektif akademis. (*)

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: