Krisis BBM Imbas Penutupan Selat Hormuz, Filipina Impor Minyak dari Rusia

Krisis BBM Imbas Penutupan Selat Hormuz, Filipina Impor Minyak dari Rusia

Kapal Sara Sky berbendera Sierra Leone, yang membawa minyak mentah dari Rusia, terlihat berlabuh di pelabuhan Limay, provinsi Bataan pada 26 Maret 2026.-Ted Aljibe-AFP Forum

HARIAN DISWAY - Sebuah kapal yang membawa lebih dari 700.000 barel minyak mentah Rusia telah tiba di Filipina.

Beberapa hari sebelumnya, Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr secara resmi menetapkan status darurat energi nasional sebagai dampak dari ditutupnya Selat Hormuz akibat serangan AS-Israel terhadap Iran.

Dikutip dari AFP, kapal tanker Sara Sky dengan bendera Sierra Leone tiba pada hari Senin, 23 Maret 2026 dengan membawa minyak mentah dari pipa ESPO Rusia. Kapal ini membawa dokumen yang menunjukkan penerima barang adalah Petron Corp, operator satu-satunya kilang minyak di Filipina.

Pada hari Kamis, 26 Maret 2026 seorang jurnalis AFP melihat kapal Sara Sky bersandar di pelabuhan Limay, tempat kilang Petron berada.


Kilang Minyak Petron Bataan (PBR), kilang minyak terbesar dan satu-satunya yang tersisa di Filipina, di kota Limay, provinsi Bataan pada 26 Maret 2026.-Ted Aljibe-AFP Forum

BACA JUGA:22 Negara Anggota NATO dan Negara-Negara Teluk Akan Bersatu Buka Selat Hormuz

BACA JUGA:Selat Hormuz, Celah Sempit yang Menentukan Geopolitik Rantai Pasok Energi Dunia

Penutupan Selat Hormuz berdampak sangat besar ke Filipina. Negara ini telah mengalami lonjakan harga BBM hingga mencapai tingkat tertinggi sepanjang sejarah.

Pengiriman minyak ke Filipina lewat kapal Sara Sky ini diyakini sebagai pengiriman pertama minyak Rusia dalam lima tahun terakhir.

Presiden Marcos sebelumnya mengatakan bahwa persediaan BBM Filipina yang semakin menipis diperkirakan hanya cukup untuk sekitar 45 hari lagi. Karena itulah, pihaknya mulai menjajaki berbagai opsi dalam mencari pasokan bahan bakar.

“Kami tidak hanya mendatangi pemasok minyak tradisional kami, tetapi juga mencoba menjajaki sumber lain yang tidak terdampak oleh perang yang sedang berlangsung di Timur Tengah,” terang Ferdinand Marcos dalam konferensi pers.

BACA JUGA:Trump Beri Waktu Iran 48 Jam untuk Buka Selat Hormuz, Ancam Musnahkan Jaringan Listrik

BACA JUGA:Mojtaba Khamenei Tegaskan Komitmen Pertahankan Blokade Selat Hormuz

Di sisi lain, CEO Petron Ramon Ang mengatakan kepada AFP pekan lalu bahwa perusahaan tersebut sedang dalam pembicaraan untuk kemungkinan membeli minyak Rusia.

Namun, pada hari Kamis ia menolak mengonfirmasi kedatangan pengiriman tersebut.

Menanggapi pertanyaan mengenai minyak Rusia tersebut, Kementerian Luar Negeri Filipina mengatakan kepada AFP bahwa negara itu akan bekerja sama dengan semua mitra yang memungkinkan untuk berkontribusi pada stabilitas regional dan global, dengan tetap menyeimbangkan kewajiban untuk melindungi dan mengamankan kepentingan nasional Filipina.

Lebih lanjut, Amerika Serikat (AS) mulai melonggarkan sebagian pembatasan penjualan minyak mentah Rusia dengan memungkinkan negara-negara untuk membeli minyak yang sudah berada di laut hingga 11 April.(*)

*) Peserta Magang dari Universitas Negeri Surabaya

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: