Analisis Polisi tentang Pembunuh Turis Belanda di Bali: Pelaku Orang Terlatih

Analisis Polisi tentang Pembunuh Turis Belanda di Bali: Pelaku Orang Terlatih

ilustrasi Gusti--

Para ahli di situ memberikan bantuan melalui pengalaman kasus sebelumnya, penelitian psikologis mendalam, dan dukungan pelatihan kepada para polisi investigator.

Salah satu prinsip analisis perilaku kriminal adalah bahwa  cara berpikir seseorang menentukan perilakunya. Termasuk pembunuh.

Perilaku kriminal mencerminkan kepribadian. Dengan menganalisis tindakan yang dilakukan seorang kriminal selama tindak kejahatan, para analis perilaku dapat menentukan tipe orang seperti apa yang melakukan kejahatan tersebut. Dari situ kemudian mengarah ke pelaku.

Analisis perilaku bertujuan mempersempit kelompok tersangka dan mengidentifikasi karakteristik psikologis yang paling mungkin dari pelaku di balik kejahatan tertentu. 

Analisis ini berfokus pada karakteristik perilaku dan kepribadian yang secara tidak sadar ditunjukkan oleh pelaku selama dan setelah kejahatan terjadi.

Analisis perilaku berupaya memahami motivasi pelaku (alasan melakukan kejahatan), dan modus operandi (cara melakukannya) dengan  memeriksa tindakan verbal dan non-verbal serta petunjuk dari tempat kejadian perkara. 

Meskipun analisis perilaku berguna untuk berbagai jenis kejahatan, analisis ini sangat relevan untuk kasus pembunuhan.

Dalam analisis TKP kasus pembunuhan, seringkali terdapat beberapa petunjuk perilaku yang secara tidak sengaja ditunjukkan oleh pelaku selama melakukan kejahatan kekerasan. Petunjuk-petunjuk ini dapat memberikan wawasan berharga kepada polisi mengenai psikologi, kepribadian, dan motif pelaku.

Analis perilaku tidak hanya mempelajari bukti yang dikumpulkan dari TKP, tetapi juga semua fakta dan informasi yang diketahui tentang korban. Langkah ini sangat penting dalam proses analisis perilaku.

Selalu ada alasan, mengapa korban tertentu dibunuh oleh pelaku yang tidak dikenal. Mengetahui sebanyak mungkin tentang korban dapat membantu penyelidik dalam menentukan motif di balik pembunuhan dan lebih memahami profil psikologis pembunuh. 

Misalnya, penyelidik dapat menyelidiki hal-hal berikut tentang korban: Lingkaran sosial. Hubungan intim. Gaya hidup. Kebiasaan sehari-hari. Pekerjaan. Sikap. Lokasi yang sering dikunjungi.

Semua itu mengungkapkan bagaimana korban dan pelaku bertemu dan bagaimana pelaku mendapatkan akses ke korban untuk melakukan pembunuhan. 

Informasi ini juga dapat menunjukkan siapa orang dalam kehidupan korban yang memiliki motif paling kuat untuk membunuh. Itu mempersempit daftar tersangka potensial.

Di pembunuhan Pouw kini polisi terpaksa fokus mempelajari profil korban. Termasuk memintai keterangan Pujiani tentang profil korban. Dari situ penyelidikan bakal berkembang, seperti sudah sering dilakukan penyelidik FBI.

Satu hal penting sudah diketahui polisi, tidak ada barang berharga korban yang dicuri pelaku. Berarti bukan motif ekonomi recehan (perampokan). Namun bisa motif ekonomi, misalnya persaingan bisnis karena korban punya kegiatan bisnis di Bali.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: