Analisis Polisi tentang Pembunuh Turis Belanda di Bali: Pelaku Orang Terlatih
ilustrasi Gusti--
Pelaku yang mengemudi motor mengenakan jaket ojek online warna hijau hitam. Berhelm hitam serta bermasker biru. Praktis, cuma kelihatan matanya. Pria satunya mengenakan kaus oranye, tanpa helm tanpa masker. Profil wajah pelaku yang ini yang bisa dikenali saksi.
Saat kejadian ada tiga saksi mata. Pujiani dan dua penghuni vila di sekitarnya. Masalahnya, saat itu gelap. Kejadian berlangsung cepat. Juga, para saksi dalam kondisi takut karena menyaksikan kebrutalan pelaku terhadap Pouw. Entah, apakah saksi bisa menggambarkan profil postur pelaku atau tidak.
CCTV cuma ada satu. Itu pun tidak mengarah ke TKP pembunuhan di teras depan vila nomor satu. CCTV ada di ujung gang. Kamera mengarah ke jalan. Dari situ memang kelihatan motor pelaku. Cuma tampak motor lewat.
Dua anjing yang dibawa korban dan pacarnya, belum dipublikasi polisi. Tapi pasti bukan jenis anjing penjaga semacam german shepherd, pit bull, Doberman, atau sejenisnya. Seumpama anjing penjaga, sangat mungkin gerakan pelaku terhambat perlawanan anjing.
BACA JUGA:Cowok-Cewek Check In Hotel di Medan, Jadi Pembunuhan: Korban Terlalu Pasrah
BACA JUGA:Motif Pembunuhan Pensiunan JICT Diungkap Polisi: Kepergok, Kaget, Bunuh
Joseph: “Kini kami fokus ke profil korban. Untuk mencari hubungan antara korban dengan pelaku.”
Cara yang dilakukan polisi ini paling efektif. Dalam kondisi begitu cara terbaik adalah menganalisis profil dan perilaku korban. Dari situ akan diketahui keterkaitan korban dengan terduga pelaku. Hal itu juga dilakukan polisi di seluruh dunia.
Dikutip dari American Military University, 9 September 2024, berjudul Behavioral Analysis in Criminal Investigation: How It Works, karya Jennifer Bucholtz, diungkapkan tentang analisis perilaku dalam mengungkap pembunuhan.
Diulas, dalam beberapa kasus pembunuhan, penyidik tidak punya cukup bukti langsung untuk menangkap tersangka di awal penyelidikan. Dalam situasi seperti itu, ilmu analisis perilaku dalam investigasi kriminal dapat membantu penyelidik memahami bagaimana pembunuhan itu dilakukan.
Dari hasil analisis perilaku (bisa korban atau pelaku) penyidik bisa mengidentifikasi tipe orang yang kemungkinan bertanggung jawab.
Mengidentifikasi faktor psikologis dan perilaku seorang pembunuh adalah tugas yang kompleks dan menantang bagi polisi. Di Amerika Serikat (AS) keahlian itu dikuasai para penyelidik Federal Bureau Investigation (FBI). Awalnya, ilmu tersebut cuma dipelajari penyelidik di FBI.
Pendidikan ilmu tersebut dimulai di FBI pada 1972, bernama Behavioral Science Unit (BSU). belakangan berganti nama menjadi Behavioral Analysis Unit (BAU). Fungsinya sama. Cuma, BAU lebih intensif dengan banyak ilmu baru yang dimasukkan dalam materi pelajaran.
Hal itu membuat banyak penyelidik kriminal beralih dari penyelidik lapangan ke keahlian BAU.
Di FBI, divisi BAU bertugas memberikan dukungan investigasi kepada lembaga penegak hukum (polisi dan jaksa) dalam memahami perilaku kriminal manusia yang kompleks, termasuk kejahatan kekerasan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: