Trump dan Tepuk Tangan yang Diatur
ILUSTRASI Trump dan Tepuk Tangan yang Diatur.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -
Di sisi lain, tepuk tangan itu mungkin nyata. Orang-orang di belakang Trump bisa saja memang pendukung sungguhan.
Tetapi, ketika mereka dikelompokkan, ditempatkan di ruang yang paling mudah tertangkap kamera, lalu terus-menerus dijadikan latar yang menguatkan pidato, yang dibangun bukan lagi sekadar suasana acara.
Yang dibangun adalah kesan.
Dan, dalam politik televisi, kesan sering kali masuk lebih dulu ke kepala publik ketimbang fakta.
Reuters pernah menggambarkan acara Trump sebagai pertunjukan yang disusun sangat teliti untuk membentuk look, feel and tone. Frasa itu menarik.
Sebab, ia menunjukkan bahwa yang dikelola bukan cuma isi pidato, melainkan juga kesan dan suasana yang ingin dipancarkan oleh pidato itu.
Jadi, yang diatur bukan hanya kalimat. Yang diatur juga wajah-wajah di belakangnya. Tepuk tangannya. Sudut pandang kameranya. Juga, agenda kesan yang ingin ditampilkan.
Politik, dalam bentuk seperti itu, menjadi sangat visual. Yang diperebutkan bukan hanya argumen, melainkan juga tampilan argumen.
Itu bukan hal sepele. Dalam demokrasi yang sehat, legitimasi semestinya datang dari argumen yang terang dan jujur. Dari tujuan yang jelas. Dari persetujuan warga yang sungguh-sungguh. Bukan dari kamera yang pandai memilih angle.
Kalau politik hadir mengatur panggung, publik diajak percaya pada gambar visual sebelum sempat melihat bukti dan menimbang data. Padahal, data terbaru justru menunjukkan masyarakat AS sedang ragu, terbelah, dan tidak sepenuhnya percaya pada arah perang itu.
Karena itu, kritik terhadap praktik semacam itu bukan kritik terhadap hak Trump untuk berbicara. Juga, bukan tuduhan bahwa semua orang di belakangnya palsu. Kritiknya ada pada cara komunikasi politik dipakai untuk mengelola persepsi publik secara tidak jujur.
Apa hikmah yang bisa dipetik? Persoalannya bukan sekadar tepuk tangan. Persoalannya adalah bagaimana tepuk tangan itu ditampilkan dan diposisikan. Dalam layar politik modern, satu frame bisa lebih cepat memengaruhi pikiran publik daripada satu bendel laporan survei lengkap.
Sebab itulah, panggung semestinya dibaca sama seriusnya dengan pidato.
Kita khawatir, demokrasi tidak dirusak kebohongan yang telanjang. Ia dirusak gambar kamera yang terlalu tertata untuk disebut jujur. (*)
*) Bagus Suminar, wakil ketua ICMI Jatim dan anggota tim Litbang Persyada Al Haromain.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: