Trump dan Tepuk Tangan yang Diatur
ILUSTRASI Trump dan Tepuk Tangan yang Diatur.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -
BANYAK ORANG menilai pidato politik dari apa yang diucapkan. Padahal, sering bukan itu yang paling efektif bekerja. Yang lebih cepat masuk justru gambar visual: siapa yang duduk di belakang podium, siapa yang bertepuk tangan, siapa yang kelihatan setuju.
Begitulah politik modern bekerja. Ia tidak hanya bicara lewat kata-kata. Ia juga bicara lewat panggung. Lewat pencitraan.
Ketika Donald Trump berpidato soal perang Iran, yang tampak di layar memang meyakinkan. Orang-orang di belakangnya terlihat antusias. Mereka mendengar dengan serius, bertepuk tangan. Mereka seperti membenarkan hampir setiap kalimat yang diucapkan Trump di atas podium.
Kalau dilihat sepintas, kesannya tampak wajar: pemimpin bicara, publik bertepuk tangan dan mendukung. Selesai.
BACA JUGA:Trump dan Halaman Belakang AS
BACA JUGA:Tarif Resiprokal ala Trump: Senja Kala Era Perdagangan Bebas?
Tapi, benarkah sesederhana itu?
Pertanyaan tersebut penting. Sebab, dalam kajian komunikasi politik, dukungan yang terlihat belum tentu sama dengan dukungan yang sesungguhnya.
Ada kalanya yang tampil di layar bukan realitas utuh, melainkan realitas yang tampak telah dipilih, disusun, lalu ditampilkan untuk membentuk kesan tertentu.
Di sinilah framing theory menjadi relevan. Teori itu banyak dijelaskan oleh Robert M. Entman dalam artikelnya tahun 1993, Framing: Toward Clarification of a Fractured Paradigm.
Intinya jelas, realitas tidak selalu hadir mentah di depan publik. Ada yang dipilih. Ada yang ditonjolkan. Ada pula yang tidak masuk frame.
BACA JUGA:Badai Tarif Trump, Strategi Geopolitik atau Gertakan Dagang?
BACA JUGA:Trump Arok
Kalau teori itu dipakai membaca pidato Trump, tepuk tangan di belakangnya bukan sekadar tepuk tangan biasa. Ia bagian dari frame. Yang masuk kamera adalah orang-orang yang tampak setuju. Yang terlihat adalah dukungan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: