Kasus Suspek Campak di Jatim Menurun Drastis, Dinkes Imbau Warga Tak Lengah

Kasus Suspek Campak di Jatim Menurun Drastis, Dinkes Imbau Warga Tak Lengah

Ilustrasi. Waspada penularan campak pada anak saat momentum arus mudik Lebaran.-Freepik-

SURABAYA, HARIAN DISWAY – Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Jawa Timur mencatat tren penurunan signifikan pada temuan kasus suspek campak di awal tahun 2026. 

Berdasarkan data surveilans, jumlah laporan warga yang menunjukkan gejala serupa campak menurun hampir separuh dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Kepala Dinkes Jatim Erwin Astha Triyono mengungkapkan bahwa keberhasilan menekan angka suspek ini merupakan buah dari penguatan imunisasi dan kesadaran masyarakat terhadap Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).

"Kami melihat tren yang sangat positif. Pada periode Januari hingga Maret 2026, tercatat ada 1.161 kasus suspek. Angka ini turun jauh jika dibandingkan periode yang sama tahun 2025 yang mencapai 2.066 kasus," ujar Erwin Jumat 3 April 2026. 

BACA JUGA:Kasus Campak Nasional Turun 93 Persen, Kemenkes Evaluasi Prosedur Kesehatan Usai Kematian Dokter Internsip

BACA JUGA:Campak, Herd Immunity, dan Tantangan Kesehatan Publik

Secara terperinci, pada tahun 2026, laporan suspek terus melandai setiap bulannya. Dimulai dari 599 kasus di bulan Januari, menyusut menjadi 376 kasus pada Februari, dan hanya 186 kasus di bulan Maret. 

Erwin menegaskan, hingga saat ini belum ada satu pun kasus yang terkonfirmasi positif campak melalui hasil laboratorium (zero confirmed case) dan tidak ada laporan kematian.

Meskipun data menunjukkan penurunan, Erwin mewaspadai karakteristik virus campak yang sangat menular melalui percikan ludah saat penderita batuk atau bersin. Ia mengingatkan masyarakat untuk mengenali gejala klinis seperti demam tinggi di atas 38°C, munculnya ruam merah (rash), batuk, pilek, hingga mata merah.

"Jika ditemukan gejala tersebut, segera lakukan isolasi mandiri dan bawa ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat. Penanganan medis biasanya melibatkan pemberian Vitamin A sebanyak dua dosis sesuai usia serta pengobatan simtomatis," jelasnya.

Sebagai langkah preventif, Dinkes Jatim terus mendorong cakupan imunisasi campak-rubela yang menyasar bayi, bawah dua tahun (baduta), hingga anak usia sekolah. Erwin menekankan bahwa imunisasi adalah perlindungan paling efektif selain penerapan protokol kesehatan dan konsumsi makanan bergizi seimbang.

"Jangan menunggu ada kejadian luar biasa. Pastikan anak-anak mendapatkan imunisasi lengkap sesuai jadwal agar kekebalan kelompok di Jawa Timur tetap terjaga," pungkasnya. (*)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: