No Kings
ILUSTRASI No Kings.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -
Aksi-aksi itu juga menunjukkan adanya kesadaran kolektif bahwa perang sering kali membawa dampak jangka panjang yang merusak, baik bagi negara yang diserang maupun bagi prajurit dan masyarakat AS sendiri.
Banyak veteran yang ikut dalam demonstrasi, menyuarakan trauma dan kerugian yang mereka alami, sehingga memperkuat pesan bahwa perdamaian adalah pilihan yang lebih bermartabat.
Namun, sekarang ini para demonstran menghadapi musuh yang keras kepala. Donald Trump tetap bergeming dan menganggap demo jutaan orang itu sepi. Trump terlalu arogan untuk bisa mendengarkan tuntutan publik.
Unjuk rasa ”No Kings” belum akan bisa menjatuhnya Trump. Namun, sangat mungkin ia dan Partai Republik akan dihukum rakyat. Pemilu sela yang akan dilaksanakan November depan menjadi ujian bagi Trump untuk bisa mempertahankan mayoritasnya di DPR.
Sangat mungkin keunggulan tipis Partai Republik di DPR Amerika Serikat akan terkikis oleh gelombang kebencian terhadap Trump. Partai Demokrat yang beroposisi diperkirakan akan memenangkan mayoritas parlemen.
Jika itu terjadi, nasib Trump bisa dalam bahaya. Ia bisa terancam oleh gerakan impeachment yang bisa menjatuhkannya sebagai presiden.
”No Kings” bukan hanya fenomena Amerika Serikat. Gerakan itu bisa saja terjadi di mana saja, termasuk di Indonesia.
Pemerintah yang tidak peduli terhadap suara rakyat dan merasa asyik dengan program-program populisnya sendiri bisa saja terancam oleh gerakan ”No Kings” yang bisa menjatuhkan seorang presiden.
Pengamat politik Connie Rahakundini Bakrie mengingatkan, demo ”No Kings” bisa saja terjadi di Indonesia. Karena itu, dia berpesan kepada Presiden Prabowo Subianto: Waspadalah! (*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: