No Kings
ILUSTRASI No Kings.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -
JUTAAN masyarakat Amerika Serikat turun ke jalan Sabtu pekan lalu, 28 Maret 2026. Mereka meneriakkan slogan ”No Kings”, menegaskan bahwa Amerika Serikat adalah negara demokrasi, bukan negara monarki.
Itu merupakan aksi unjuk rasa terbesar selama setahun terakhir. Setidaknya 8 juta sampai 9 juta orang turun ke jalan di seluruh 50 negara bagian Amerika Serikat. Setidaknya ada 3 ribu titik aksi yang menyerukan gugatan yang sama.
Musuh bersama para pengunjuk rasa adalah Donald Trump. Presiden ke-47 itu dianggap bukan lagi seorang presiden, melainkan seorang raja. Amerika Serikat bukan negara demokrasi, melainkan sudah menjadi monarki.
Indikatornya adalah gaya kepemimpinan Trump yang dianggap otoritarian dan gemar melangkahi hukum. Trump dianggap sebagai despot yang menabrak konstitusi demi kepentingan politiknya.
BACA JUGA:Demo 'No Kings' Anti Kebijakan Trump Berujung Rusuh di Los Angeles, Puluhan Orang Ditahan
BACA JUGA:Demonstrasi Nasional 'No Kings' Guncang AS, Jutaan Orang Tolak Kepemimpinan Donald Trump
Perang melawan Iran adalah akumulasi ketidakpuasan terhadap Trump. Perang Iran bukan satu-satunya pemicu demo besar itu. Gaya kepemimpinan Trump yang arogan dan megaloman membuat rakyat kehilangan kesabaran.
Demo antiperang seperti itu sudah terjadi pada 1974, ketika jutaan orang turun ke jalan untuk menentang keterlibatan Amerika Serikat (AS) dalam perang di Vietnam. Gelombang demo yang meluas di seluruh negeri memaksa AS mundur dari Vietnam dan dipermalukan karena kalah oleh negara kecil.
Gelombang demonstrasi besar yang terjadi di Amerika Serikat dalam berbagai momentum sejarah menunjukkan bahwa AS memiliki tradisi panjang dalam menolak pemerintahannya terlibat dalam perang yang menghancurkan.
Di tengah citra global AS sebagai kekuatan militer besar, dinamika domestiknya justru memperlihatkan kontradiksi yang kontras bahwa sebagian besar masyarakat sipil tidak selalu sejalan dengan kebijakan luar negeri pemerintahnya, terutama ketika menyangkut perang.
Pada era perang Vietnam, jutaan warga AS turun ke jalan untuk menolak keterlibatan militer yang dianggap tidak bermoral dan merugikan kemanusiaan. Demonstrasi yang melibatkan mahasiswa, akademisi, hingga veteran perang menjadi simbol bahwa suara rakyat mampu menjadi kekuatan moral yang menekan negara.
Gerakan itu tidak hanya menolak perang, tetapi juga mengangkat nilai-nilai kemanusiaan, hak hidup, dan keadilan global.
Hal yang sama terjadi pada perang Irak 1991. Ratusan ribu orang memenuhi jalanan di kota-kota besar seperti New York City dan Washington DC untuk menolak perang yang dinilai dibangun di atas narasi yang tidak sepenuhnya terbukti.
Demonstrasi itu menjadi bagian dari gerakan global antiperang terbesar dalam sejarah modern, memperlihatkan solidaritas lintas negara dalam menolak kekerasan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: