Anak Bunuh-Mutilasi Ayah di Bulukumba, Sulsel: Overkill Efek Dendam

Anak Bunuh-Mutilasi Ayah di Bulukumba, Sulsel: Overkill Efek Dendam

ILUSTRASI Anak Bunuh-Mutilasi Ayah di Bulukumba, Sulsel: Overkill Efek Dendam.-Arya/AI-Harian Disway -

AKBP Restu: ”Kedua pelaku punya motif berbeda, tetapi satu tujuan membunuh korban. Tersangka SS mengaku dendam karena ia tidak diakui anak oleh korban. Padahal, ia tinggal serumah bersama korban yang juga ayah kandungnya. Tersangka ML tetangga korban yang punya dendam lama terhadap korban.”

Kronologi, Sabtu, 28 Maret, Syamsir dan Mellanio bersepakat merencanakan pembunuhan Idris. Senjatanya sebuah parang. Malam itu juga Mellanio mendatangi rumah Idris. Ia bertemu Idris dan Syamsir. Ia ngobrol sebentar dengan Idris, lalu pulang.

Minggu dini hari, 29 Maret 2026, Mellanio balik ke rumah Idris. Saat itu Idris sudah tidur pulas. Itulah saat eksekusi.

BACA JUGA:Pembunuh-Mutilasi di Malang Dihantui Korban

BACA JUGA:Motif Mutilasi Istri di Malang

AKBP Restu: ”Tersangka SS mengaku, ia tidak tega memulai pembunuhan. Korban itu ayahnya. Ia menyuruh tersangka ML mengawali. Kemudian, ML langsung menggorok korban.”

Sebenarnya gorokan Mellanio itu sudah mematikan korban. Namun, di saat korban menjelang ajal, Syamsir mendatangi korban. Ia meminta parang yang dipegang Mellanio. Dengan senjata itu, ia menikam perut korban bertubi-tubi. Kemudian, mengeluarkan isinya. Lalu, memotong usus. Potongan usus dibuangnya ke tanah.

Syamsir ditanya polisi tentang kekejaman itu. Syamsir menjawab bahwa tindakan tersebut sebagai perlambang putusnya hubungan ia dengan ayahnya. Sebab, ia dendam lantaran tak diakui anak oleh sang ayah. 

Kedua tersangka dijerat Pasal 459 KUHP, pembunuhan berencana. Ancaman maksimal hukuman mati. Atau, hukuman penjara seumur hidup, setidaknya penjara 20 tahun. Bagi Mellanio, di usia segitu, ia akan meninggal di dalam penjara.

Peristiwa itu mengerikan, mengagetkan, mengherankan publik. Bagaimana mungkin anak membunuh ayah kandung? Seandainya motif berdasar pengakuan pelaku benar, toh ia masih tinggal serumah dengan ayahnya. Pasti ada sesuatu yang tidak beres pada psikologis tersangka.

Dikutip dari CBS News, 26 Juli 2012, berjudul Q&A: Why kids kill parents, diungkapkan hasil wawancara CBS News dengan Prof Kathleen M. Heide, guru besar kriminologi di The University of South Florida (USF) Tampa, Florida, Amerika Serikat (AS).

Prof Heide pakar bidang pembunuhan dalam keluarga (pelaku dan korban sekeluarga). Salah satu bukunyi yang terkenal berjudul Why Kids Kill Parents: Child Abuse and Adolescent Homicide. Heide konselor kesehatan mental berlisensi dan ahli yang ditunjuk pengadilan Tampa dalam hal-hal yang berkaitan dengan pembunuhan dalam keluarga.

Pertanyaan CBS News menarik, begini: studi Anda mengatakan bahwa pembunuhan orang tua oleh remaja tidak dapat diprediksi. Apakah tidak ada tanda-tanda peringatan sebelumnya?

Heide: Tidak mungkin memprediksi bahwa seorang anak laki-laki atau perempuan tertentu akan membunuh orang tuanya. Alasan mengapa pembunuhan orang tua tidak dapat diprediksi adalah pembunuhan orang tua merupakan peristiwa yang sangat jarang terjadi secara statistik. 

Misalnya, pada 2010, lembaga penegak hukum di seluruh AS melaporkan kepada Federal Bureau Investigation (FBI) hubungan korban-pelaku untuk 12.996 dari 14.748 korban yang diklasifikasikan sebagai korban pembunuhan pada tahun itu. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: