Anak Bunuh-Mutilasi Ayah di Bulukumba, Sulsel: Overkill Efek Dendam
ILUSTRASI Anak Bunuh-Mutilasi Ayah di Bulukumba, Sulsel: Overkill Efek Dendam.-Arya/AI-Harian Disway -
Jarang, anak laki-laki membunuh ayah. Lebih jarang lagi, tersangka Syamsir, 35, membunuh ayahnya, Idris, 61, lalu memutilasinya di Bulukumba, Sulsel. Ia tak hanya menikam perut Idris, tapi juga mengeluarkan usus, memotong, lalu membuangnya.
KEKEJAMAN pelaku tentu mengherankan warga di sekitar rumah korban dan pelaku di Kelurahan Mariorennu, Kecamatan Gantarang, Bulukumba, Sulawesi Selatan. Kejadian Minggu dini hari, 29 Maret 2026.
Kapolres Bulukumba AKBP Restu Wijayanto dalam konferensi pers di kantornya, Rabu, 1 April 2026, menceritakan, polisi mengetahui itu setelah mendapat laporan warga pada Minggu pagi, 29 Maret 2026. Lalu, tim polisi menuju TKP, rumah korban (juga rumah pelaku).
Polisi mendapati kondisi mengerikan di TKP. Idris meninggal dengan leher tergorok nyaris putus dan perut luka terbuka. Isinya terburai. Di halaman rumah itu tampak seonggok daging yang setelah diteliti ternyata usus korban.
Tim polisi mengolah TKP. Ditemukan sidik jari tiga orang di sekitar mayat. Sidik jari korban, Syamsir, dan satu lagi yang setelah diteliti kemudian diketahui milik Mellanio, 72, tetangga korban.
BACA JUGA:Analisis Bunuh-Mutilasi Bedul di Kedai Ayam Geprek Bekasi: Diduga Dikeroyok Kawan
BACA JUGA:Pelaku Bunuh-Mutilasi di Brebes Dijerat Pasal Pencurian: Mutilasi Terus Ditiru
Orang pertama penemu mayat adalah anak Idris, MF, adik Syamsir. Ia orang pertama yang dimintai keterangan polisi. Kemudian, polisi mencari Syamsir untuk dimintai keterangan. Namun, Syamsir tak ada di rumah. Tidak ada CCTV di desa itu. Polisi mengumpulkan aneka bukti.
Itu pembunuhan berlebihan (overkill). Biasanya bermotif dendam. Pelakunya mengeksekusi korban dengan kemarahan meluap. Siapa yang bisa melakukan itu?
AKBP Restu: ”Kemudian, tim penyidik memintai keterangan empat orang; dua anak korban dan dua tetangga.”
Di antara empat yang dimintai keterangan termasuk Syamsir dan Mellanio. Dalam wawancara itu, keduanya tampak gelisah. Gelagat mereka mencurigakan polisi. Keterangan mereka tidak logis. Dalam pertanyaan berulang, jawaban mereka tidak konsisten. Sidik jari mereka berdua pun tersebar di TKP.
BACA JUGA:Motif Pembunuhan-Mutilasi di Lidah Wetan, Surabaya: Diawali Tiga Perkara
BACA JUGA:Pembunuhan dan Mutilasi Itu Terkuak dari Cincin Bermata Love
Polisi fokus memeriksa Syamsir dan Mellanio lebih intensif. Dalam beberapa jam pemeriksaan yang melelahkan, akhirnya mereka mengakui membunuh Idris. Alat bunuh sebuah parang yang digunakan bergantian.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: