Batas Akses vs Algoritma

Batas Akses vs Algoritma

ILUSTRASI Batas Akses vs Algoritma.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -

Di sanalah ironi itu muncul. Jempol yang bergerak bebas justru menjadi pintu masuk bagi kontrol yang lebih halus. Kian sering digunakan, kian besar peran sistem dalam menentukan apa yang dianggap penting, menarik, dan layak untuk diperhatikan.

KEDAULATAN YANG DIAM-DIAM HILANG

Tanpa disadari, anak-anak tidak hanya kehilangan kendali atas yang mereka lihat, tetapi juga atas cara mereka memahami dunia. Informasi yang seharusnya menjadi ruang eksplorasi berubah menjadi ruang yang telah diarahkan sejak awal.

Dalam kondisi ini, kebebasan tidak benar-benar hilang, tetapi dipersempit secara perlahan. Apa yang dianggap sebagai pilihan pribadi sering kali merupakan hasil dari pola yang terus diulang.

Anak-anak tumbuh dalam lingkungan digital yang membentuk preferensi, opini, bahkan mereka menilai realitas. Tanpa ruang pembanding yang cukup, mereka sulit melihat bahwa ada perspektif lain di luar yang disajikan.

Lebih jauh lagi, kondisi itu berpotensi melemahkan kemampuan berpikir kritis. Ketika informasi datang dalam bentuk yang sudah dipilihkan, proses mempertanyakan menjadi makin jarang.

Anak tidak lagi terbiasa mencari, tetapi menunggu untuk disajikan. Di titik itu, yang hilang bukan sekadar variasi informasi, melainkan kedaulatan dalam berpikir. Anak-anak tidak lagi sepenuhnya menjadi subjek yang aktif tetapi perlahan berubah menjadi objek dalam sistem yang lebih besar.

PENUTUP: ANTARA AKSES DAN KESADARAN

Pertarungan antara batas akses dan algoritma menunjukkan bahwa permasalahan dunia digital tidak sesederhana soal penggunaan gawai. Di balik layar yang tampak netral, terdapat sistem yang secara aktif membentuk cara anak melihat dan memahami realitas.

Kebebasan yang ditawarkan internet tidak selalu hadir dalam bentuk yang utuh, tetapi telah melalui proses seleksi yang tidak kasatmata. Pembatasan akses memang dapat menjadi langkah awal untuk melindungi anak dari paparan yang berlebihan.

Namun, tanpa diimbangi dengan kesadaran kritis dan literasi digital, anak tetap berada dalam lingkaran yang sama. Algoritma akan terus bekerja, dengan atau tanpa batasan yang terlihat.

Karena itu, yang perlu dijaga bukan hanya akses, melainkan juga cara berpikir. Anak-anak perlu dibekali kemampuan untuk mempertanyakan, membandingkan, dan memahami bahwa apa yang mereka lihat bukan satu-satunya realitas. Jika tidak, yang hilang bukan sekadar kendali atas layar, melainkan kendali atas cara mereka memaknai dunia. (*)

*) Sendy Krisna Puspitasari, aktivis komunitas perempuan dan anak, mahasiswa S-2 kajian sastra dan budaya, FIB, Universitas Airlangga.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: