Kebangkitan Nasional di Tengah Era Distraksi Digital
ILUSTRASI Kebangkitan Nasional di Tengah Era Distraksi Digital.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -
PERINGATAN Hari Kebangkitan Nasional setiap 20 Mei bukan sekadar seremoni untuk mengenang sejarah lahirnya kesadaran bangsa Indonesia. Momentum itu seharusnya menjadi ruang refleksi untuk melihat kembali tantangan yang sedang dihadapi masyarakat Indonesia pada masa kini.
Jika pada awal abad ke-20 bangsa Indonesia menghadapi kolonialisme dan keterbelakangan pendidikan, masyarakat modern menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks. Yakni, derasnya arus distraksi digital yang memengaruhi kualitas berpikir, relasi sosial, dan kesehatan psikologis masyarakat.
Ruang Digital dan Krisis Perhatian Masyarakat Modern
Perkembangan teknologi digital memang membawa perubahan besar dalam kehidupan manusia. Internet dan media sosial membuat komunikasi menjadi sangat cepat dan tanpa batas. Informasi dapat diperoleh hanya dalam hitungan detik, pekerjaan menjadi lebih efisien, dan peluang pendidikan kian terbuka luas.
Teknologi juga memberikan ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan aspirasi, membangun jejaring sosial, hingga menciptakan berbagai inovasi kreatif. Dalam banyak hal, teknologi telah membantu meningkatkan kualitas hidup manusia.
BACA JUGA:Berdikari Digital: Refleksi 118 Tahun Kebangkitan Nasional
BACA JUGA:Refleksi Hari Kebangkitan Nasional: Bermusyawarah di Era Digital
Namun, di balik berbagai kemudahan tersebut, era digital juga menghadirkan persoalan baru yang tidak sederhana. Saat ini masyarakat hidup dalam banjir informasi yang berlangsung hampir tanpa henti.
Setiap hari manusia menerima ratusan, bahkan ribuan, stimulus digital berupa notifikasi, video singkat, iklan, berita viral, dan berbagai percakapan media sosial. Situasi itu membuat perhatian manusia makin mudah terpecah.
Banyak orang sulit mempertahankan fokus dalam waktu lama karena otak terus-menerus menerima rangsangan baru.
Dalam perspektif psikologi kognitif, perhatian manusia memiliki kapasitas yang terbatas. Ketika individu terus terpapar berbagai stimulus digital secara simultan, otak mengalami kondisi yang disebut fragmentasi perhatian.
Carr (2010) menjelaskan bahwa internet dan media digital membentuk kebiasaan berpikir cepat, tetapi dangkal. Individu menjadi terbiasa membaca secara singkat, berpindah dari satu informasi ke informasi lain tanpa proses refleksi mendalam. Akibatnya, kemampuan konsentrasi dan berpikir kritis perlahan mengalami penurunan.
BACA JUGA:Rumah HOS Tjokroaminoto dan Abadinya Spirit Kebangkitan Nasional
Fenomena itu diperkuat oleh desain media sosial yang memang dirancang untuk mempertahankan perhatian pengguna selama mungkin. Dalam psikologi perilaku, sistem itu dikenal melalui konsep variable reward, yaitu pemberian stimulus yang tidak pasti, tetapi terus memicu rasa penasaran pengguna.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: