Kebangkitan Nasional di Tengah Era Distraksi Digital

Kebangkitan Nasional di Tengah Era Distraksi Digital

ILUSTRASI Kebangkitan Nasional di Tengah Era Distraksi Digital.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -

Setiap ”likes”, komentar, atau konten viral memunculkan pelepasan dopamin di otak yang menghasilkan rasa senang sementara dan mendorong individu untuk terus mengakses media sosial (Alter, 2017). 

Tidak mengherankan apabila banyak orang merasa sulit melepaskan diri dari telepon genggam meski sebenarnya tidak memiliki kebutuhan yang mendesak.

Akibat dari kondisi tersebut tidak hanya menurunnya produktivitas, tetapi juga berubahnya pola interaksi sosial masyarakat. Budaya ”scroll tanpa henti” membuat individu lebih terbiasa menjadi konsumen informasi daripada pembaca yang reflektif. 

Masyarakat menjadi lebih mudah bereaksi secara emosional daripada melakukan evaluasi kritis terhadap informasi yang diterima. Dalam situasi seperti itu, hoaks, ujaran kebencian, dan polarisasi sosial berkembang dengan sangat cepat.

Fenomena tersebut dapat dijelaskan melalui konsep cognitive overload dari Sweller (1988), yaitu kondisi ketika kapasitas mental seseorang kewalahan akibat terlalu banyak informasi yang harus diproses dalam waktu bersamaan. 

Ketika individu mengalami kelelahan mental, kemampuan berpikir logis dan kritis akan menurun. Akibatnya, masyarakat menjadi lebih rentan memercayai informasi palsu dan lebih mudah terprovokasi oleh isu-isu emosional yang beredar di media sosial.

Ironisnya, di tengah dunia yang makin terkoneksi secara digital, manusia justru dapat mengalami kesepian psikologis. Interaksi di media sosial sering kali bersifat dangkal dan penuh pencitraan. Banyak orang terlihat aktif secara sosial di dunia maya, tetapi merasa kosong dan terisolasi dalam kehidupan nyata. 

Penelitian Twenge (2019) menunjukkan bahwa penggunaan media sosial yang berlebihan berkaitan dengan meningkatnya kecemasan, depresi, dan rendahnya kesejahteraan psikologis pada generasi muda. 

Media sosial menciptakan tekanan sosial baru yang membuat individu merasa harus selalu terlihat bahagia, produktif, dan sempurna di hadapan publik digital.

Memaknai Ulang Kebangkitan Nasional dalam Perspektif Psikologi Sosial

Pada masa awal kebangkitan nasional, organisasi seperti Budi Utomo lahir dari kesadaran kolektif bahwa bangsa Indonesia harus bangkit melalui pendidikan, persatuan, dan kesadaran sosial. Semangat tersebut menunjukkan bahwa perubahan sosial selalu dimulai dari kesadaran psikologis masyarakat untuk merasa terhubung sebagai satu bangsa.

Dalam psikologi sosial, kondisi itu berkaitan dengan konsep social identity yang dikembangkan Tajfel dan Turner (1979). Individu tidak hanya memiliki identitas personal, tetapi juga identitas sosial sebagai bagian dari kelompok tertentu. 

Ketika masyarakat memiliki identitas kolektif yang kuat, mereka akan lebih mudah membangun solidaritas, empati, dan tujuan bersama. Pada masa perjuangan nasional, identitas sebagai ”bangsa Indonesia” menjadi sumber kekuatan yang menyatukan masyarakat dari berbagai latar belakang.

Namun, tantangan di era digital berbeda. Media sosial sering kali membentuk ruang komunikasi yang terfragmentasi. Algoritma digital cenderung menciptakan echo chamber, yaitu kondisi ketika individu hanya menerima informasi yang sesuai dengan keyakinannya sendiri. 

Akibatnya, masyarakat makin sulit memahami perspektif yang berbeda dan lebih mudah terjebak dalam polarisasi sosial. Ruang digital yang seharusnya menjadi sarana dialog justru berubah menjadi arena konflik dan permusuhan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: