Kebangkitan Nasional di Tengah Era Distraksi Digital
ILUSTRASI Kebangkitan Nasional di Tengah Era Distraksi Digital.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -
Dalam konteks itulah, kebangkitan nasional perlu dimaknai ulang. Kebangkitan bangsa hari ini bukan hanya tentang pembangunan ekonomi atau kemajuan teknologi, melainkan juga tentang kemampuan masyarakat menjaga kesehatan psikologis, nalar kritis, dan nilai kemanusiaan di tengah derasnya arus digital.
Bangsa yang benar-benar bangkit adalah bangsa yang mampu menggunakan teknologi tanpa kehilangan empati dan kesadaran sosialnya.
Salah satu bentuk kebangkitan modern adalah penguatan literasi digital. Literasi digital tidak cukup hanya dimaknai sebagai kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga kemampuan memahami informasi secara kritis, menjaga etika komunikasi, dan mengendalikan diri dalam menggunakan media digital.
Dalam psikologi, kemampuan itu disebut self-regulation, yaitu kemampuan individu mengontrol pikiran, emosi, dan perilaku agar tetap sesuai dengan tujuan jangka panjang (Baumeister & Vohs, 2007).
Individu yang memiliki regulasi diri yang baik akan lebih mampu membatasi penggunaan media sosial, tidak mudah terpancing konflik digital, dan mampu menjaga keseimbangan antara kehidupan daring dan kehidupan nyata.
Regulasi diri juga penting untuk menjaga kesehatan mental masyarakat di tengah tekanan budaya digital yang serba cepat dan kompetitif.
Selain itu, masyarakat perlu membangun empati digital. Komunikasi di media sosial sering kali menghilangkan ekspresi emosional secara langsung sehingga individu lebih mudah melakukan penghinaan atau perundungan tanpa menyadari dampaknya terhadap orang lain.
Padahal, empati merupakan fondasi utama dalam membangun kehidupan sosial yang sehat. Tanpa empati, ruang digital hanya akan menjadi tempat pelampiasan emosi dan konflik sosial.
Menjadi Generasi yang Kritis, Sehat Mental, dan Humanis
Di tengah budaya viral dan persaingan mencari validasi sosial, bangsa ini membutuhkan generasi yang tidak hanya cerdas secara teknologi, tetapi juga matang secara emosional dan sehat secara psikologis. Salah satu tantangan terbesar generasi muda saat ini adalah kecenderungan membandingkan diri dengan kehidupan orang lain di media sosial.
Fenomena itu dikenal dalam psikologi sebagai social comparison (Festinger, 1954), yaitu kecenderungan individu menilai dirinya berdasarkan pencapaian atau penampilan orang lain.
Media sosial membuat individu terus-menerus melihat potongan kehidupan orang lain yang tampak ideal: tubuh yang sempurna, pencapaian karier, hubungan romantis, hingga gaya hidup mewah.
Paparan yang terus-menerus terhadap standar ideal tersebut dapat memunculkan rasa tidak puas terhadap diri sendiri, kecemasan, bahkan depresi. Banyak individu merasa tertinggal atau gagal hanya karena membandingkan kehidupannya dengan realitas digital yang sebenarnya belum tentu utuh.
Oleh karena itu, kebangkitan nasional di era digital juga harus diwujudkan melalui kesadaran menjaga kesehatan mental masyarakat. Generasi muda perlu memahami bahwa nilai diri tidak ditentukan oleh jumlah pengikut, ”likes”, atau validasi sosial di media digital.
Kehidupan yang bermakna dibangun melalui hubungan sosial yang sehat, kemampuan memahami diri sendiri, dan kontribusi nyata terhadap masyarakat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: