Wawan Domba
PENULIS (satu dari kanan) bersama Wawan (dua dari kanan) di ranch-nya.-Arif Afandi untuk Harian Disway-
Ia mengubah cara kita melihat nilai sesuatu. Ketika daging dipotong dengan standar tertentu dan diberi identitas yang jelas, ia berhenti menjadi barang generik. Ia menjadi produk dengan karakter. Menciptakan nilai baru atas barang.
Kita tahu, salah satu persoalan utama industri domba nasional –termasuk banyak komoditas ternak dan pertanian lainnya– adalah inkonsistensi. Kualitas daging sangat bergantung pada keberuntungan: bagaimana ternaknya dipelihara, bagaimana dipotong, dan bagaimana didistribusikan. Tidak ada jaminan rasa, tekstur, atau kebersihan.
Apa yang dilakukan Wawan adalah menjawab persoalan klasik itu: konsistensi. Melalui pembibitan terkontrol, pemotongan standar, dan pengemasan modern. Ia berusaha memastikan bahwa setiap potongan daging membawa kualitas yang relatif seragam.
Di tangan Wawan, kualitas produk domba tak hanya dinaikkan. Namun, ia juga berusaha membangun ekosistem: dari peternakan, pemrosesan, distribusi, hingga konsumsi. Setiap bagian saling terhubung dan saling menguatkan.
Menariknya, perubahan itu tidak datang dengan pendekatan yang agresif. Tidak ada klaim revolusioner yang berisik. Hanya standar yang diterapkan secara konsisten, lalu dikomunikasikan dengan cara yang rapi.
”Kami sedang membangun lahan peternakan yang terintegrasi di Parung, Bogor. Luasnya 200 hektare. Sudah dalam proses land clearing,” katanya.
Rasanya Wawan, yang tadinya orang media, kini layak mendapat julukan Wawan Domba. Ia menjadi contoh orang yang berhasil mentransformasi sektor yang selama ini dianggap tradisional menjadi industri modern. (*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: