Pembunuhan Balas Dendam di Pinggir Sungai Martapura: Dari Manis ke Pahit

Pembunuhan Balas Dendam di Pinggir Sungai Martapura: Dari Manis ke Pahit

ILUSTRASI Pembunuhan Balas Dendam di Pinggir Sungai Martapura: Dari Manis ke Pahit.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -

Hasrat untuk membalas dendam adalah sesuatu yang abadi. Sejak adanya manusia. Dendam seklasik Homer dan Hamlet serta semodern Don Corleone dan Quentin Tarantino.

Penggambaran APS itu unik. Homer dan Hamlet adalah dua sosok yang berbeda dalam sejarah sastra. Keduanya merujuk pada karya sastra klasik internasional yang terkenal.

Homer penyair Yunani kuno yang legendaris, dipercaya sebagai pencipta puisi epik Iliad dan Odyssey. Hamlet adalah tokoh cerita fiksi dalam drama tragedi karya William Shakespeare, The Tragedy of Hamlet, Prince of Denmark, yang ditulis sekitar tahun 1599–1601.

Sementara itu, Don Corleone tokoh fiksi ikonik dalam film The Godfather (dirilis di Amerika Serikat, 14 Maret 1972). Dan, Quentin Tarantino adalah sutradara ternama yang mengagumi The Godfather. Tarantino sering mengutip The Godfather sebagai pengaruh besar. Namun, ia tidak terlibat di film tersebut. 

Dendam, meskipun gagasan balas dendam tidak diragukan lagi menggiurkan dengan istilah ”balasan setimpal”, menjanjikan kemanisan (kesenangan). Dendam itu manis. Namun, kemanisannya hanya terbatas pada lapisan luar. 

Pelaksanaan balas dendam sebenarnya (di kemudian hari) menimbulkan biaya pahit. Berupa kehilangan waktu, energi, emosional, dan fisik, bahkan nyawa. Artinya, pelaksanaan balas dendam mengakibatkan pelakunya kehilangan waktu (dipenjara), bahkan bisa merenggut nyawa pelaku jika kalah dalam pertarungan.

Disebutkan, pada menit-menit sebelum balas dendam terasa nikmat, seperti yang diakui oleh para penulis studi Science. Tetapi, bagaimana dengan hari-hari dan minggu-minggu setelahnya?

Dalam beberapa tahun terakhir, para ilmuwan psikologi telah menemukan banyak cara di mana praktik balas dendam gagal memenuhi harapan manisnya. 

Para ilmuwan perilaku telah mengamati, bukannya meredakan permusuhan, balas dendam malah memperpanjang ketidaknyamanan pelaku dari pelanggaran musuh di awal kejadian.

Periset juga menemukan, bukannya memberikan keadilan, balas dendam sering kali hanya menciptakan siklus pembalasan dendam berikutnya dari korban. Sebab, keseimbangan moral seseorang jarang selaras dengan orang lain. 

Hasil dari wawasan itu adalah pemahaman yang lebih baik tentang mengapa pengejaran balas dendam telah bertahan sepanjang zaman walaupun rasanya jauh lebih pahit daripada kemanisannya.

Di kasus pembunuhan Abdillah, pelampiasan dendam bukan amuk brutal dengan tikaman bertubi-tubi. Cuma satu tikaman. Tapi, sangat fatal. 

Merujuk teori yang diungkap APS, pada menit-menit sebelum dan sesudah pelampiasan dendam, pelaku merasakan kemanisan. Lega. Puas. Menyenangkan.

Namun, itu cuma sesaat. Beberapa saat kemudian langsung berubah menjadi penyesalan. Sebab, pelaku ketakutan dikejar polisi. Kabur sampai 195 kilometer di tengah malam. Ia merasakan sangat sedih saat dibekuk polisi. Bakal berakhir dengan hukuman mati, setidaknya penjara 20 tahun. (*)

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: