Memaknai 'Rating' Investasi Indonesia
ILUSTRASI Memaknai 'Rating' Investasi Indonesia.-Arya/AI-Harian Disway -
PETA persepsi risiko investasi Indonesia di awal 2026 menyuguhkan pemandangan yang berlawanan. Di satu sisi, angka makroekonomi kita tampak baik dengan prediksi pertumbuhan PDB stabil di angka 5 persen 2026/2027, rasio utang terjaga di kisaran 40 persen, dan cadangan devisa berada pada level aman. Namun, di sisi lain, alarm kewaspadaan justru berbunyi dari lembaga pemeringkat global.
Lembaga pemeringkat seperti S&P, JCR, dan R&I memang masih mengafirmasi Indonesia dengan peringkat level layak investasi (investment grade). Namun, Moody’s dan Fitch Ratings memberikan catatan ”kuning” dengan merevisi outlook Indonesia dari stabil menjadi negatif.
Meski peringkat utama masih tertahan di level Baa2 dan BBB, pergeseran perspektif itu mempertegas satu hal di mana stabilitas ekonomi tidak boleh hanya bersandar pada statistik makro, tetapi harus berakar pada kekuatan kelembagaan.
ATURAN MAIN DAN KEPASTIAN
Dalam perspektif ekonomi kelembagaan, aturan main (the rules of the game) menjadi penentu utama stabilitas. Daron Acemoglu dan James Robinson baru saja memenangi Nobel Ekonomi 2024 lewat tesis mereka tentang bagaimana institusi menentukan kemakmuran bangsa.
BACA JUGA:Investasi versus Ilusi: Stop Jadi 'Duryudana' Finansial, yuk Jadi 'Bima' yang Melek SDM!
BACA JUGA:Mission (Im)possible Danantara: Mesin Investasi atau Instrumen Geopolitik?
Jauh sebelumnya, Douglass North telah mengingatkan bahwa lembaga adalah perangkat yang diciptakan manusia untuk melahirkan harmoni, ketertiban pembangunan, dan mereduksi ketidakpastian. Sari-sari pemikiran ekonomi kelembagaan tampaknya relevan menyikapi persoalan itu.
Sorotan Moody’s dan Fitch tertuju pada policy predictability atau keteramalan kebijakan. Dalam kacamata kelembagaan, ketidakpastian adalah biaya transaksi (transaction cost) yang teramat mahal bagi investor.
Ketika arah kebijakan dianggap ”abu-abu”, alarm risiko investasi akan berbunyi nyaring. Investor biasanya memilih wait and see, alih-alih memutuskan realisasi.
Ada beberapa aspek sebagai pemicu outlook negatif ini.
BACA JUGA:Penurunan BI Rate: Implikasi pada Investasi dan Sektor Riil
BACA JUGA:Pembangunan Manusia Melalui Generasi Muda: Investasi Jangka Panjang Indonesia
Pertama, arah kebijakan fiskal yang menempatkan efisiensi sebagai kata kunci, tetapi masih dibayangi potensi pelebaran defisit di atas 3 persen PDB. Hal itu dipicu oleh tekanan belanja sosial yang masif, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: investasi