Investasi versus Ilusi: Stop Jadi 'Duryudana' Finansial, yuk Jadi 'Bima' yang Melek SDM!

Investasi versus Ilusi: Stop Jadi 'Duryudana' Finansial, yuk Jadi 'Bima' yang Melek SDM!

ILUSTRASI Investasi versus Ilusi: Stop Jadi 'Duryudana' Finansial, yuk Jadi 'Bima' yang Melek SDM!-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

ADA satu paradoks menarik dalam perilaku ekonomi masyarakat kita. Di satu sisi, nalar kritis kita sudah berkembang. Mitos lama seperti ”nikah saja dulu, rezeki diatur Tuhan Yang Maha Pengasih” atau ”punya anak saja dulu, nanti rezeki mengikuti” mulai ditinggalkan. 

Data BPS membuktikannya, angka pernikahan turun dari 2 juta (2018) menjadi 1,4 juta (2024) dan angka kelahiran merosot dari 2,41 (2010) menjadi 2,18 (2020). Artinya, kita makin paham bahwa membangun masa depan butuh fondasi ekonomi, bukan sekadar tekad.

Namun, di sisi lain, kita justru terjebak dalam mitos ekonomi baru yang lebih personal: ”Uang jangan ditahan, nanti rezeki seret”. Kalimat itu sering menjadi tameng untuk membenarkan pembelian barang yang sebenarnya tak terlalu kita butuhkan. 

BACA JUGA:Waspada Investasi Emas

BACA JUGA:Mission (Im)possible Danantara: Mesin Investasi atau Instrumen Geopolitik?

Lebih ironis lagi, perilaku konsumtif itu kerap dibalut agama seolah-olah dengan belanja lalu menyisihkan receh, kita telah mengamalkan ajaran sedekah yang akan mendatangkan rezeki berlipat. 

Padahal, agama justru mengutamakan akal. Seruan afala ta’qilun, ’apakah kamu tidak berpikir?’, adalah panggilan untuk merencanakan dan mempertanggungjawabkan pilihan, termasuk pilihan finansial.

Lalu, mengapa logika kita tumpul saat berhadapan dengan etalase toko? Teori compensatory consumption dalam psikologi memberikan jawabannya. Perilaku itu adalah bentuk pelarian. 

BACA JUGA:Penurunan BI Rate: Implikasi pada Investasi dan Sektor Riil

BACA JUGA:Seni sebagai Investasi, Jalan Menuju Ketajaman Makna

Ketika kita merasa tak berdaya dan gagal meraih target hidup yang besar seperti memiliki rumah (dengan rasio harga-pendapatan di Jakarta yang mencapai 21,42 menurut Kompas, 2025), kita mencari kompensasi simbolis. 

Kita beralih ke kemenangan-kemenangan kecil yang terjangkau dan instan seperti ponsel terbaru, sepatu branded, atau tas limited edition. Data Payments and Commerce Market Intelligence (PCMI, 2025) menunjukkan, kategori fesyen dan aksesori tersebut menjadi primadona. 

Dalam kondisi itu, belanja bukan lagi soal kebutuhan, melainkan terapi sesaat untuk mengembalikan rasa kontrol dan identitas yang tergerus.

BACA JUGA:Fenomena Premanisme dan Ancaman terhadap Iklim Investasi

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: