Ke Mana Perginya Pertumbuhan?

Ke Mana Perginya Pertumbuhan?

ILUSTRASI Ke Mana Perginya Pertumbuhan?.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

EKONOMI Indonesia tumbuh rata-rata 5 persen per tahun. Investasi masuk. Lapangan kerja tercipta. Angka-angka terlihat sehat.

Namun, sepanjang 2018–2024, World Bank mencatat upah riil pekerja justru turun rata-rata 1,1 persen per tahun. Tenaga kerja terampil turun lebih dalam, 2,3 persen. Ekonomi naik, upah turun. Dua angka itu tidak semestinya berjalan bersama. Namun, di Indonesia, mereka berjalan bersama.

Pertanyaannya bukan apakah kita tumbuh. Pertanyaannya, mengapa pertumbuhan itu tidak menjadi upah?

Masalahnya bukan pada pekerja, melainkan pada desain pertumbuhannya sendiri. Dalam teori yang sering kita ulang, rantainya sederhana: investasi masuk, pekerjaan tercipta, produktivitas naik, upah ikut naik, daya beli menguat, konsumsi bergerak, pertumbuhan berlanjut. Di Indonesia, rantai itu putus di beberapa titik sekaligus. Dan, ketika satu titik putus, titik berikutnya ikut gagal.

INVESTASI MASUK, TAPI KE MANA?

Modal memang masuk. Realisasi investasi tumbuh 4,6 persen pada 2024. Namun, ia mengikuti insentif yang tersedia: tax holiday untuk pengolahan mineral, kemudahan izin untuk kawasan industri padat karya, potongan pajak untuk ekspor setengah jadi. Jalur yang paling rasional di bawah desain kebijakan yang ada mengarah ke komoditas, smelter, dan zona industri berupah rendah.

Investasi itu memang legal dan rasional. Tapi, komposisinya berat di sektor bernilai tambah rendah. Pertumbuhan tercipta, tetapi terkonsentrasi dan tidak menjalar menjadi kenaikan produktivitas luas. 

Antara Agustus 2024 dan Agustus 2025, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat seluruh tambahan pekerjaan berasal dari sektor berupah rendah: pertanian, akomodasi, dan makanan-minuman. Upah rata-ratanya Rp2,55 juta per bulan. Rata-rata nasional saja hanya Rp3,33 juta. 

Pabrik smelter nikel di Sulawesi mempekerjakan ribuan orang, tetapi dengan gaji tidak jauh dari UMP. Nilai tambahnya mengalir ke pemegang konsesi dan pembeli di luar negeri.

Investasi masuk. Pekerjaan tercipta. Namun, yang tumbuh adalah pekerjaan murah, bukan pekerjaan yang menaikkan standar hidup. Dan, dari sini, rantai berikutnya ikut bermasalah.

KETERAMPILAN ADA, TANGGA TIDAK ADA

Kalau industri yang tumbuh paling cepat adalah industri rendah keterampilan, pasar kerja yang tersedia juga rendah keterampilan. Industri olahan dan jasa bernilai tinggi tidak berkembang cukup untuk menyerap lulusan yang seharusnya bisa bekerja di level lebih tinggi. 

Perguruan tinggi meluluskan sarjana sistem informasi, tetapi ekosistem teknologi domestik terlalu kecil untuk menampung mereka semua.

Hasilnya bisa ditebak: lulusan SMK masuk pabrik garmen. Sarjana teknik jadi staf admin. Bukan karena mereka tidak mampu, melainkan karena pekerjaan yang cocok dengan kualifikasi mereka tidak tersedia dalam jumlah cukup. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: